Dermawan Abdul Sattar Edhi Wafat, Seluruh Pakistan Berduka

Denny Armandhanu/Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 10/07/2016 09:40 WIB
Dermawan Abdul Sattar Edhi Wafat, Seluruh Pakistan Berduka Abdul Sattar Edhi, dermawan besar dari Pakistan meninggal dunia. (Reuters/Mohsin Hassan/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Pakistan tengah berduka akhir pekan ini setelah muncul berita wafatnya Abdul Sattar Edhi, dermawan besar negara itu yang dijuluki "Bunda Theresa-nya Pakistan".

Edhi yang telah dianggap sebagai "malaikat penolong" bagi orang miskin dan anak yatim mengembuskan nafas terakhir pada Jumat malam (8/7) dan segera dimakamkan secara kenegaraan di Karachi pada Sabtu (9/7), dihadiri oleh ribuan orang.

Dikutip Reuters, pria 88 tahun ini meninggal akibat sakit ginjal yang telah lama dideritanya. Bagi jutaan Pakistan, kematian Edhi membawa duka yang mendalam.


Pada pemakamannya, massa menerobos garis batas militer untuk ikut mengusung peti jenazah Edhi yang dibalut dengan bendera hijau dan putih Pakistan di Stadion Nasional Karachi.

Selama lebih dari 60 tahun, Edhi bersama istrinya Bilquis mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama dengan membangun klinik, panti asuhan dan jaringan ambulans terbesar di Pakistan. Yayasan Edhi juga memiliki pusat perlindungan bagi wanita dan dapur umum bagi orang miskin di seluruh Pakistan.

Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif menyatakan kehilangannya atas meninggalnya Edhi. Sharif berdoa agar Edhi mendapatkan tempat "terbaik di surga".

"Edhi adalah permata sejati dan aset Pakistan. Kami kehilangan pelayan kemanusiaan yang luar biasa. Dia adalah manifestasi dari cinta kepada orang-orang yang rentan, miskin, tertindas dan sulit mendapat pertolongan," kata Sharif.

Ucapan belasungkawa juga datang dari berbagai pihak, salah satunya dari pemerintah India yang mengatakan bahwa Edhi "adalah jiwa sejati yang mendedikasikan dirinya untuk melayani sesama."

Sementara peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai mengatakan bahwa dia menominasikan Edhi untuk penghargaan yang sama yang diperolehnya.

Bagi masyarakat miskin Pakistan, Edhi adalah anugerah Tuhan untuk meringankan beban mereka. Itulah sebabnya, peziarah berdatangan membanjiri upacara pemakaman Edhi.

"Edhi bekerja bagi masyarakat tertindas seumur hidupnya. Menghadiri pemakamannya adalah hal terakhir yang bisa dilakukan untuk menghormatinya," kata Siraj Ahmed, 34, seorang penjaga toko.
Warga berebut ingin ikut mengusung peti jenazah Abdul Sattar Edhi. (Reuters/Akhtar Soomro)

Dikubur di lubang yang dia gali

Edhi dikafani sesuai dengan tata cara pemakaman Islam. Dia dikubur di lubang yang dia gali sendiri beberapa tahun lalu di pemakaman Edhi dekat Karachi.

Lahir di Gujarat, India, Edhi dan keluarganya yang Muslim pindah ke Pakistan tahun 1947 di tengah konflik yang memisahkan kedua negara tersebut.

Mantan pedagang kain di Karachi ini kemudian membangun jaringan lembaga bantuan melalui donasi, fokus pada rehabilitasi pecandu narkotika, wanita yang tertindas, yatim dan orang cacat.

Tahun 1965 Edhi menikahi Bilquis, seorang perawat di sebuah lembaga bantuan miliknya. Bilquis kemudian membangun rumah bersalin gratis dan membantu proses adopsi anak-anak yatim atau terbengkalai di seluruh Pakistan.

Dikenal dengan jenggot putih dan peci hitamnya, Edhi adalah pahlawan bagi orang miskin dan tidak melihat latar belakang keagamaan dan status seseorang dalam memberi bantuan. Dia juga keras mengkritik kelompok militan Islam yang menyerang warga sipil, mengecam korupsi di pemerintahan dan mengutuk orang-orang kaya Pakistan yang mengemplang pajak.

Di akhir masa hidupnya, Edhi masih turun langsung mengumpulkan donasi dari para dermawan di Pakistan hingga ikut memandikan jenazah orang-orang miskin. Dia juga mengemudikan salah satu ambulans miliknya di Karachi untuk mengangkut orang sakit.

Yayasan Edhi juga memberikan pendidikan umum dan agama Islam bagi warga miskin, konsultasi keluarga berencana dan kehamilan, bantuan hukum, medis, dan keuangan gratis bagi tahanan dan orang cacat.

Kendati aliran uang yang masuk ke yayasannya luar biasa besar, namun Edhi yang memiliki dua putra dan dua putri hidup sederhana di apartemen dua kamar dekat tempat kerjanya.

Penghargaan dari dalam dan luar negeri telah diraihnya, termasuk Gandhi Peace Award, Madanjeet Singh Prize dari UNESCO tahun 2007, London Peace Award tahun 2011, Seoul Peace Award tahun 2008, dan Hamdan Award for Volunteers in Humanitarian Medical Service.

Dipanggil dengan nama Maulana Edhi, sebutan bagi cendekiawan Muslim, yayasan Edhi juga memberdayakan perempuan. Dari 2.000 pekerja yayasannya, sekitar 500 di antaranya adalah wanita. (den)