Turki Desak Pakistan Tutup Sekolah yang Terkait dengan Gulen

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 02/08/2016 20:06 WIB
Turki Desak Pakistan Tutup Sekolah yang Terkait dengan Gulen Pakistan berjanji segera menyelidiki jaringan sekolah di Pakistan yang diduga terkait dengan Fathullah Gulen, ulama yang dituding mendalangi kudeta Turki. (Selahattin Sevi/Zaman Daily via Cihan News Agency/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Pakistan berjanji kepada Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu untuk segera menyelidiki jaringan sekolah di Pakistan yang diduga terkait dengan Fathullah Gulen, tokoh agama yang dituding mendalangi percobaan kudeta di Turki pada pertengahan Juli lalu.

Namun, kepala kebijakan luar negeri Pakistan Sartaj Aziz tak serta merta setuju untuk menutup Sekolah Internasional dan Kampus PakTurk, yang memiliki 10 ribu siswa dan menyangkal terkait dengan sang ulama yang tinggal dalam pengasingan di AS itu.

Cavusoglu yang tengah mengunjungi Islamabad pada Selasa (2/8) menekankan bahwa "kelompok teroris" Gulen harus dihapuskan.


"Bukan rahasia bahwa organisasi ini memiliki lembaga atau hadir di Pakistan dan di banyak negara lain," katanya, dikutip dari Reuters.

"Saya yakin langkah-langkah yang diperlukan akan diambil. Kita harus sangat berhati-hati dengan organisasi tersebut, dan mereka menyebabkan risiko dan ancaman bagi keamanan dan stabilitas setiap negara di mana mereka berada," ujar Cavusoglu.

Menanggapi pernyataan ini, Aziz kemudian mengucapkan selamat kepada Turki atas "kemenangan bagi demokrasi dan kebebasan." Aziz berjanji bahwa Pakistan akan menyelidiki sekolah-sekolah yang dicurigai, namun tetap berharap seluruh sekolah itu akan tetap beroperasi karena dikelola dengan baik dan memberikan pendidikan yang baik.

"Kami akan mencoba untuk menemukan pengaturan alternatif bagi sekolah untuk tetap beroperasi sementara kegiatan mereka yang lain harus diatur atau dibatasi," ujarnya.

Turki dan Pakistan secara tradisional memiliki hubungan dekat, utamanya di bawah pimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Nawaz Sharif.

Sementara, organisasi PakTurk, yang telah beroperasi di Pakistan selama 21 tahun dan memiliki lebih dari dua puluh kampus, membantah terkait dengan jaringan Gulen.

"Kami sangat prihatin dengan tuduhan yang mencoba menghubungkan Sekolah Internasional dan Kampus PakTurk Pakistan dengan Fethullah Gulen," bunyi pernyataan organisasi ini.

"Sekolah ini "tidak memiliki afiliasi atau koneksi" dengan organisasi politik atau agama," bunyi pernyataan itu.

Gulen merupakan mantan kawan yang berujung menjadi lawan terbesar Erdogan. Mengaku bermazhab Hanafi, Gulen menekankan pengajarannya dengan memadukan agama dengan ilmu pengetahuan alam, mendorong dialog antar agama, serta demokrasi multi partai. Dia menginisiasi dialog dengan Vatikan dan organisasi-organisasi Yahudi.

Gerakan Gulen, atau yang dikenal dengan nama Hizmet di Turki, menjalankan sekitar 2.000 lembaga pendidikan di sekitar 160 negara. Pekan lalu, Kedutaan Besar Turki di Jakarta merilis pernyataan yang menyatakan bahwa sembilan institusi pendidikan di Indonesia terkait dengan jaringan Organisasi Teroris Fethullah Gulen (FETO).

Dalam rilis itu disebutkan bahwa kesembilan sekolah tersebut berada di bawah organisasi payung PASIAD, yang telah ditutup pada 1 November 2015. Turki juga menyebut bahwa sejumlah sekolah yang berkaitan dengan FETO di seperti Yordania, Azerbaijan, Somalia dan Nigeria sudah ditutup.

Desakan Turki untuk menutup sejumlah institusi pendidikan ini termasuk salah satu upaya "pembersihan" pendukung kudeta yang digalakkan Erdogan, usai kudeta yang berhasil digagalkan pada 15 Juli lalu.

Gulen dituding menjadi dalang upaya kudeta yang menewaskan setidaknya 240 orang dan melukai 2.000 lainnya. Gulen yang kini tinggal di Pennsylvania, AS, membantah tuduhan ini, dan balik menuduh kudeta itu mungkin didalangi oleh pemerintah Turki sendiri. (ama/ama)