Tekan Trump, Clinton dan Tim Kaine Akan Rilis Data Pajak

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 12/08/2016 13:23 WIB
Tekan Trump, Clinton dan Tim Kaine Akan Rilis Data Pajak Capres AS, Hillary Clinton, dan pasangan cawapresnya, Tim Kine, dalam beberapa hari ke depan akan merilis data pajak mereka untuk menekan Donald Trump. (Reuters/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden Amerika Serikat Hillary Clinton dalam beberapa hari ke depan akan merilis Surat Pemberitahuan Pajak Pengahasilan tahun 2015, sementara pasangan calon wakil presidennya, Tim Kaine dan istrinya Anne Holton, akan merilis data pajak tersebut selama 10 tahun terakhir.

Informasi ini diungkapkan oleh sumber yang dekat dengan Clinton kepada Reuters, Kamis (11/8). Perilisan data pajak ini dinilai sebagai upaya tim kampanye Clinton untuk menekan rival mereka, Donald Trump yang menolak merilis data pajaknya.

CNBC melaporkan bahwa data tersebut akan menunjukkan Clinton membayar tarif pajak efektif 35 persen dan memberikan sekitar 10 persen untuk amal.


R
encana perilisan ini terjadi di tengah gelombang kritik terhadap Trump soal pajaknya. Perilisan data pajak memang tidak diwajibkan oleh hukum, namun hal ini selalu dilakukan oleh setiap capres yang memperebutkan kursi Gedung Putih sejak 1973.

"Dia menolak untuk melakukan apa yang setiap calon presiden lainnya lakukan dalam beberapa dekade dan merilis [data] pajaknya," kata Clinton dalam sebuah pidato ekonomi di Michigan pada Kamis.

Kampanye Clinton telah merilis Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan hingga tahun 2007. Selain itu, data pajaknya terbuka untuk publik selama periode delapan tahun ketika suaminya, Bill Clinton, menjabat sebagai presiden. Data pajak untuk tahun-tahun sebelumnya pun sudah dirilis oleh tim kampanye Bill.

Data pajak keluarga Clintons sudah dirilis ke publik, dalam berbagai bentuk, untuk setiap tahun hingga 1977.

Trump, taipan real-estate asal New York ini selalu menolak merilis data pajaknya, dengan mengklaim data pajaknya masih diperiksa oleh Internal Revenue Service (IRS). Trump sudah menyatakan bahwa tidak mungkin dia merilis data pajaknya sebelum pemilihan presiden pada 8 November mendatang.

Para pakar, termasuk calon presiden dari Partai Republik pada 2012 Mitt Romney, mengecam Trump karena menolak melakukannya. Romney mengajukan sejumlah pertanyaan soal data pajak, kekayaannya dan hubungan bisnis Trump, khususnya di Rusia.

Ditanya dalam sebuah wawancara televisi pada Mei lalu soal tarif pajak apa yang ia bayar, Trump menjawab singkat, "Itu bukan urusan Anda."

IRS sudah menyatakan bahwa Trump bisa merilis data pajaknya meski masih diaudit. Selain menampilkan sumber dan jumlah penghasilan, data pajak menunjukkan tingkat persentase pajak yang dibayarkan, pemotongan dan jumlah uang yang diberikan untuk amal.

Awal bulan ini, di sebuah kampanye Clinton di Omaha, Nebraska, konglomerat dari Berkshire Hathaway, Warren Buffett , menantang Trump untuk merilis data pajaknya ke publik.

"[Data pajak] Saya juga tengah diaudit, dan saya akan sangat senang untuk bertemu dengannya kapan pun, di mana pun, sebelum pemilu. Saya akan membawa data pajak saya, dan dia bisa membawa miliknya, dan biarkan publik bertanya kepada kami [soal pajak itu]," kata Buffett.

Trump menolak untuk memenuhi tantangan Buffett. (ama/stu)