Duterte, sebagai salah satu pemimpin negara yang akan berhubungan dengan siapapun yang akan menjadi presiden AS, tak menampik bahwa hasil pemilu AS nanti akan mempengaruhi hubungan kedua negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan faktanya bahwa jutaan warga Filipina tinggal di AS jadi saya tidak bisa memberi jawaban beresiko. Saya lebih baik memilih Putin sebagai pahlawan favorit saya," ujar Duterte menambahkan.
Dalam kesempatan itu, Duterte juga ditanya soal kabar yang beredar bahwa cara bicara dan pemikirannya serupa dengan Trump. Duterte menjawab, taipan real estate itu menyerukan isu yang memang harus menjadi perhatian, salah satunya terorisme.
"Isu-isu itu valid. Trump menyiarkan sesuatu yang memang harus menjadi perhatian seperti terorisme. Semua orang seharusnya khawatir tentang terorisme," kata Duterte.
"Terorisme itu ada, dan terus terang, Amerika turut menjadi alasan mengapa terorisme itu ada saat ini," tutur Duterte.
Pernyataan Duterte dinilai menjadi sinyal bahwa Filipina mulai merapat ke Rusia dan China, untuk perlahan meninggalkan ketergantungannya kepada AS.
Pekan lalu, Duterte mengumumkan "perpisahan" dengan AS dalam sektor ekonomi dan militer. Duterte mengaku kecewa lantaran AS mengkritik caranya memerangi praktik narkoba di negaranya. Langkah Duterte itu juga dinilai sebagai upaya Filipina merapat ke pemerintah China.
Seusai bertemu Presiden China Xi Jinping pekan lalu, Duterte juga mempertimbangkan untuk berbicara dengan Putin. Duterte terlihat ingin merangkul China dan Rusia untuk membentuk aliansi baru dengan menyatakan, "hanya ada kami bertiga melawan dunia yakni China, Filipina, dan Rusia." (ama)