Ditanya Jagokan Trump atau Clinton, Duterte Malah Pilih Putin

Riva Dessthania Suastha | CNN Indonesia
Selasa, 25 Okt 2016 11:49 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte, tidak menjagokan Clinton maupun Trump sebagai Presiden AS, melainkan memilih Presiden Rusia Vladimir Putin. Presiden Filipina Rodrigo Duterte, tidak menjagokan Clinton maupun Trump sebagai Presiden AS, melainkan memilih Presiden Rusia Vladimir Putin. (Reuters/Erik De Castro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjelang pemilu presiden Amerika Serikat, publik internasional seakan memiliki pendapat pribadi soal capres yang dijagokan akan menduduki kursi Gedung Putih. Namun bagi Presiden Filipina Rodrigo Duterte, pilihannya tidak jatuh kepada Hillary Clinton maupun Donald Trump, melainkan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Duterte, sebagai salah satu pemimpin negara yang akan berhubungan dengan siapapun yang akan menjadi presiden AS, tak menampik bahwa hasil pemilu AS nanti akan mempengaruhi hubungan kedua negara.

Ketika ditanyai oleh salah seorang reporter CNN terkait calon presiden AS mana yang menurutnya lebih baik untuk diajak kerja sama dengan FIlipina, Duterte menolak untuk memilih. Duterte menjawab ia lebih baik memilih Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai orang yang ia segani, ketimbang Clinton atau Trump.


"Saya ingin menjawab pernyataan ini dengan jujur. Masalahnya, secara personal, jawaban saya tidak terlalu penting, tapi saya presiden di negara ini, yang akan berhubungan dengan AS," ucap Duterte, seperti diberitakan Inquirer pada Minggu (23/10).

"Dan faktanya bahwa jutaan warga Filipina tinggal di AS jadi saya tidak bisa memberi jawaban beresiko. Saya lebih baik memilih Putin sebagai pahlawan favorit saya," ujar Duterte menambahkan.

Dalam kesempatan itu, Duterte juga ditanya soal kabar yang beredar bahwa cara bicara dan pemikirannya serupa dengan Trump. Duterte menjawab, taipan real estate itu menyerukan isu yang memang harus menjadi perhatian, salah satunya terorisme.

"Isu-isu itu valid. Trump menyiarkan sesuatu yang memang harus menjadi perhatian seperti terorisme. Semua orang seharusnya khawatir tentang terorisme," kata Duterte.

"Terorisme itu ada, dan terus terang, Amerika turut menjadi alasan mengapa terorisme itu ada saat ini," tutur Duterte.

Pernyataan Duterte dinilai menjadi sinyal bahwa Filipina mulai merapat ke Rusia dan China, untuk perlahan meninggalkan ketergantungannya kepada AS.

Pekan lalu, Duterte mengumumkan "perpisahan" dengan AS dalam sektor ekonomi dan militer. Duterte mengaku kecewa lantaran AS mengkritik caranya memerangi praktik narkoba di negaranya. Langkah Duterte itu juga dinilai sebagai upaya Filipina merapat ke pemerintah China.

Seusai bertemu Presiden China Xi Jinping pekan lalu, Duterte juga mempertimbangkan untuk berbicara dengan Putin. Duterte terlihat ingin merangkul China dan Rusia untuk membentuk aliansi baru dengan menyatakan, "hanya ada kami bertiga melawan dunia yakni China, Filipina, dan Rusia." (ama/ama)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER