Di Moskow, Orang Dekat Trump Sebut Sanksi Rusia Bisa Dicabut

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Jumat, 16/12/2016 13:15 WIB
Di Moskow, Orang Dekat Trump Sebut Sanksi Rusia Bisa Dicabut Presiden terpilih AS Donald Trump (kiri) tak mesti mengikuti kebijakan pendahulunya, Barack Obama (kanan). (Reuters/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang politikus pendukung Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump yang juga seorang mantan anggota Kongres, Jack Kingston,  terlihat mendatangi Rusia pekan ini.

Kingston, yang merupakan seorang mantan perwakilan negara bagian Georgia di Kongres sekaligus penasihat dan juru bicara Trump saat kampanye, berbicara dengan sejumlah pengusaha asal Amerika yang ada di negara tersebut.

Pembicaraan itu berlangsung secara tertutup. Namun, di depan publik, dia mengatakan sanksi negara-negara Barat terhadap Rusia atas agresinya di Ukraina dan pencaplokan Crimea bisa dicabut.


"Trump bisa melihat sanksi-sanksi itu. Mereka sudah diterapkan cukup lama," kata Kingston dalam wawancara dengan NPR yang dikutip CNN, Jumat (16/12).

"Apakah hasil yang diinginkan sudah dicapai? Dia (Trump) tidak perlu mengikuti kebijakan luar negeri Obama. Ini memberikannya awal yang baru."

Pihak Trump belum merespons permintaan tanggapan mengenai pernyataan maupun kedatangan Kingston ke Moskow.

Sementara itu, di dalam negeri, anggota Kongres sedang bergulat untuk menanggapi dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden yang dimenangkan Trump. Banyak anggotanya, termasuk dari partai Republik, yang menyuarakan sanksi tambahan atas dugaan ini.

Ketika berkampanye, salah satu hal yang kerap disampaikan Trump adalah janji untuk membangun hubungan lebih baik dengan Rusia, terutama dengan Presiden Vladimir Putin.

Ketika menunjuk CEO ExxonMobil Rex Tillerson sebagai Menteri Luar Negeri, Trump juga mengindikasikan keinginan akan hubungan diplomatis yang lebih cair melalui bidang ekonomi dan kebijakan luar negeri kepada Rusia.

Tillerson, yang telah menjalankan bisnis besar di Rusia, pernah diberi penghargaan persahabatan oleh Putin pada 2013 lalu. (has/ama)