Melansir Reuters, resolusi tersebut bertujuan membuka jalan bagi perundingan di Astana, ibukota Kazakhstan, di bawah naungan Rusia dan Iran yang mendukung pemerintah Suriah, serta Turki yang mendukung pemberontak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, upaya damai tersebut tidak mengikutsertakan kelompok jihad Negara Islam dan mantan afiliasi Al-Qaeda, Fateh al-Sham.
Turki dan Rusia mengatakan pembicaraan Astana akan melengkapi, bukan menggantikan, upaya perdamaian yang didukung PBB, termasuk perundingan yang ditetapkan pada Februari di Jenewa.
Adapun Amerika Serikat tidak ambil bagian dalam proses itu, namun menyebut gencatan senjata di Suriah sebagai hal yang ‘positif’.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris, mengatakan sebagian besar Suriah tetap tenang, sepanjang Sabtu (31/12) meskipun masih terjadi beberapa bentrokan.
Pemerintah di Damaskus menyebut gencatan senjata itu sebagai ‘kesempatan nyata’ untuk menemukan solusi politik bagi perang yang telah merenggut lebih dari 310.000 jiwa.
(les)