Dijerat Skandal, Fillon Berkeras Jadi Presiden Perancis

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 07/02/2017 15:12 WIB
Dijerat Skandal, Fillon Berkeras Jadi Presiden Perancis Politikus konservatif Francois Fillon berkeras mencalonkan diri sebagai presiden. (Reuters/Christian Hartmann)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kandidat presiden dari partai konservatif Perancis Francois Fillon bersumpah akan terus berjuang memenangkan pemilihan umum meski dijerat skandal terkait pendapatan palsu istrinya. Sang istri diduga menerima gaji ratusan ribu euro dari pekerjaan yang sebenarnya tidak dijalankan.

Dalam konferensi pers di Paris, Selasa (7/2), pria berusia 62 tahun ini meminta maaf karena salah berbicara soal masalah mempekerjakan anggota keluarga. Meski begitu, sebagaimana diberitakan Reuters, dia mengatakan pekerjaan istrinya sebagai asisten parlemen selama 15 tahun adalah asli dan legal.

Walau demikian, dia mengatakan kampanye "dugaan tak berdasar" yang merugikan ini tidak akan menghapuskan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai presiden.


"Tidak ada plan B," kata dia, menampik sejumlah laporan yang menyebut ada kandidat kanan moderat lain yang disiapkan untuk mengantikannya.

"Saya adalah satu-satunya kandidat yang bisa membawa pemulihan nasional. Saya adalah kandidat sayap kanan dan saya di sini untuk menang," ujarnya.

Dia juga mengumumkan dirinya akan meluncurkan fase baru kampanyenya Selasa waktu setempat.

Mantan perdana menteri ini mengadakan konferensi pers setelah anggota partai Republik, partainya sendiri, menyarankannya untuk mengundurkan diri dan memberikan waktu bagi partai untuk mencari kandidat baru.

FIllon berharap ucapan maaf dan tampikannya terkait skandal ini akan meyakinkan partai dan para pendukungnya.

Sebelum skandal mencuat dalam koran satir sekitar dua pekan lalu, polling sempat menunjukkan Fillon sebagai calon favorit presiden selanjutnya. Dia diprediksi menang besar dalam pemilu dua tahap yang akan digelar 23 April dan 7 Mei, mengalahkan Marine Le Pen dari partai Front Nasional.

Sejak saat itu, elektabilitasnya terus jatuh dan kini diprediksi tidak akan bisa menembus pemilihan tahap kedua.

Dua polling yang diterbitkan Senin kemarin menunjukkan tokoh moderat, Emmanuel Macron, sebagai calon favorit baru. Mantan bankir investasi ini diperkirakan bisa dengan mudah mengalahkan Le Pen yang merupakan politikus ekstrem kanan.

(aal)