Filipina Rilis Surat Perintah Penangkapan Pengkritik Duterte

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 24/02/2017 06:50 WIB
Filipina Rilis Surat Perintah Penangkapan Pengkritik Duterte Setelah bertahun-tahun mencoba menguak keterkaitan Duterte dengan pasukan pembunuh ratusan pelaku tindak kriminal, kini De Lima justru akan diadili dengan tuduhan penyelundupan narkoba. (AFP Photo/Ted Aljibe)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengadilan Filipina merilis surat penangkapan tokoh politik yang kerap mengkritik Presiden Rodrigo Duterte, Leila de Lima.

Setelah bertahun-tahun mencoba menguak keterkaitan Duterte dengan pasukan pembunuh ratusan pelaku tindak kriminal, kini De Lima justru akan diadili dengan tuduhan penyelundupan narkoba.

Ia dituduh mendalangi sebuah operasi penyelundupan narkoba ketika ia masih menjabat sebagai Menteri Kehakiman pada masa pemerintahan Benigno Aquino.

Para pendukung De Lima menganggap kasus ini hanya merupakan cara Duterte untuk membungkam sang anggota Senat ini. De Lima pun mengaku akan menghadapi tuntutan ini dan tidak kabur.

"Saya tidak berencana untuk kabur. Saya tidak berencana bersembunyi. Saya akan menghadapi semua tuntutan," ujar De Lima sebagaimana dikutip AFP, Kamis (23/2).

De Lima mengatakan, meskipun surat penangkapan sudah diterbitkan, tapi kertas itu harus sampai terlebih dulu di tangannya. Ia pun menghabiskan Kamis malamnya dengan keluarga dan akan kembali ke Senat, di mana kemungkinan penangkapan dilaksanakan.

Senator ini memang dikenal tidak takut menghadapi Duterte. Sepekan belakangan saja, De Lima sudah beberapa kali melontarkan kritik terhadap sang presiden yang terkenal dengan kampanye anti-narkobanya.

Ia menyebut Duterte "pembunuh berantai sosiopat" karena di bawah pemerintahan sang presiden, sekitar 6.500 pengedar narkoba tewas tanpa proses peradilan yang jelas. De Lima pun berseru kepada seluruh rakyat Filipina untuk bergerak bersama menentang Duterte.

Tak hanya itu, De Lima juga menyebut mental Duterte tak cukup sehat untuk menjadi presiden. Ia meminta kabinet untuk melengserkan Duterte, layaknya revolusi yang menggulingkan diktator Ferdinand Marcos pada 1986.

"Kini waktunya kembali tiba bagi kita untuk berani dan bertindak melawan diktator kriminal dan rezim setannya," ucap De Lima pada Selasa lalu.

Berbeda dengan De Lima, partai tempatnya bernaung, Partai Liberal, justru menyuarakan kecaman dan kekhawatiran atas penahanan ini.

Mereka takut, nyawa De Lima akan melayang, seperti politisi Filipina lainnya, Rolando Espinosa, yang tewas di penjara pada Agustus tahun lalu, setelah dituduh menyelundupkan narkoba.

Menanggapi kekhawatiran partainya ini, De Lima hanya mengatakan bahwa ia tak akan berhenti mengutarakan kritiknya, meskipun tahu nyawanya terancam.

"Kepada kalian semua, kami meminta doa agar saya tetap selamat dan aman di mana pun mereka mau memenjarakan saya," katanya.