Teror London, Skotlandia Tunda Sidang Referendum di Parlemen

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 23/03/2017 20:52 WIB
Teror London, Skotlandia Tunda Sidang Referendum di Parlemen Skotlandia terpaksa menunda sidang pembahasan referendum kemerdekaan menyusul serangan teror yang terjadi di gedung parlemen Inggris pada Rabu (22/3) sore. (Foto: REUTERS/Russell Cheyne)
Jakarta, CNN Indonesia -- Parlemen Skotlandia menunda debat mengenai referendum kemerdekaannya dari Inggris hingga Selasa pekan depan. Penundaan ini dilakukan menyusul serangan teror di London yang menewaskan empat orang, termasuk sang pelaku, dan melukai 40 lainnya.

"Perdebatan tentang pilihan Skotlandia akan kembali dimulai Selasa pekan depan, sekitar 14.20 waktu setempat," ungkap juru bicara kantor parlemen seperti dikutip Reuters, Kamis (23/3).

Sidang pembahasan referendum Skotlandia ini seharusnya bisa rampung pada Rabu kemarin, bertepatan dengan aksi teror tersebut.
Pertemuan yang membahas permintaan peninjauan kembali posisi Skotlandia di Inggris ini terpaksa dihentikan, setelah sejumlah legislator oposisi memilih langsung meninggalkan ruang sidang saat insiden terjadi.


Wacana referendum mencuat di Skotlandia seiring dengan berlakunya undang-undang yang memungkinkan Perdana Menteri Theresa May memulai proses negosiasi Inggris meninggalkan Uni Eropa.

Wakil Perdana Menteri Skotlandia Nicola Sturgeon meminta parlemen untuk diberikan kewenangan menggelar referendum kemerdekaan sebelum negosiasi Brexit rampung, sekitar akhir 2018 atau 2019.
[Gambas:Video CNN]
Sturgeon menginginkan referendum karena menganggap Inggris gagal menanggapi suara mayoritas warga Skotlandia yang menolak Inggris keluar UE.

Hasil referendum Brexit pertengahan 2016 lalu memaparkan, mayoritas warga Skotlandia memilih Inggris tetap berada di blok perdagangan bebas Eropa itu, dengan perbandingan 62 persen melawan 38 persen.

Dengan referendum Skotlandia, Edinburg berharap bisa berargumen agar tetap berada di UE, sementara London melangkah pergi.
Permintaan referendum partai berkuasa pimpinan Sturgeon, Partai nasional Skotlandia (SNP), diperkirakan lolos di parlemen yang turut didukung Partai Hijau.

Namun, PM May menuturkan, saat ini bukan waktu yang tepat bagi Skotlandia untuk mendiskusikan referendum kemerdekaan. Alasannya, tidak adil bagi rakyat Skotlandia jika harus memutuskan tanpa mengetahui hasil akhir negosiasi Brexit.

"Saat ini yang seharusnya kita lakukan adalah bekerja sama meraih hasil terbaik bagi Skotlandia dan juga hasil terbaik bagi Inggris. Ini sudah menjadi tugas seorang perdana menteri. Saya katakan pada Partai SNP, saat ini bukan waktu yang tepat untuk referendum," tutur May.
"Tidak adil jika melihat isu ini sekarang, karena orang-orang tidak memiliki informasi dan pengertian yang cukup untuk membuat keputusan penting seperti itu," ungkapnya menambahkan.

Meski May tidak secara langsung menolak referendum, Menteri Inggris urusan Skotlandia David Mundell justru secara blak-blakan mengesampingkan diskusi apapun mengenai keinginan Edinburg untuk memerdekakan diri dari London.

Mundell sempat menuturkan bahwa Skotlandia tidak punya pilihan untuk tetap berada di UE meski referendum berhasil dilangsungkan.
Skotlandia tidak bisa serta-merta menggantikan posisi keanggotaan Inggris di organisasi regional tersebut.

"Tidak ada peluang bagi Skotlandia untuk mengisi kekosongan keanggotaan Uni Eropa menyusul keluarnya Inggris," kata Mundell.