Pengamat sebelumnya pernah mengidentifikasi setidaknya empat percobaan serangan siber untuk mencuri dana dari lembaga keuangan di Bangladesh, Ekuador, Filipina, dan Vietnam untuk.
Peneliti Kaspersky kemudian menuturkan, serangan siber serupa--yang dikenal dengan sebutan Lazarus--juga tengah mengincar institusi keuangan di Indonesia, Costa Rica, Ethiopia, Gabon, India, Iraq, Kenya, Malaysia, Nigeria, Polandia, Taiwan, Thailand, dan Uruguay.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilaporkan pada Selasa (4/4), dalam pertemuan tersebut, peneliti salah satu perusahaan keamanan siber terbaik di dunia itu juga turut merekam sejumlah praktik peretasan Korut yang pernah terjadi.
Salah satunya yakni insiden serangan sejumlah bank dan lembaga penyiaran Korea Selatan pada 2013 lalu serta peretasan Sony Pictures di Amerika Serikat pada 2014. Kedua penyelidikan kasus itu berujung pada pengungkapan operasi Lazarus.
"Ini semua dilakukan untuk senjata nuklir. Mereka membutuhkan uang ini untuk penelitian program senjata rudal dan nuklir mereka," kata peneliti senior di Foundation for Defense of Democracies, Anthony Ruggiero.
Sementara itu, peneliti dari FireEye mengatakan, Korut mencoba menyalurkan uang yang mereka dapatkan melalui sebuah bank di Asia tenggara yang telah terinfeksi virus Lazarus. Namun tim darurat disebut berhasil memblokir upaya itu.
Peneliti juga meyakini para peretas ini tengah mempersiapkan serangan terhadap sejumlah bank besar Negara Barat dengan menggunakan metode yang lebih canggih.
Peneliti keamanan kemudian berhasil melacak kode itu. Kemudian dari situ diketahui bahwa peretas Lazarus memiliki 150 alamat situs internet yang menjadi incaran operasinya.
Dari ratusan alamat internet itu, beberapa diantaranya termasuk situs Bank Dunia, bank sentral Brasil, Chili, Estonia, Meksiko, Venezuela, dan berbagai bank internasional terkenal lain.
Kaspersky menyatakan, keberadaan para peretas ini seluruhnya terlacak berada di Korut. Menurut peneliti produsen anti-virus komputer itu, para pelaku dengan hati-hati mengarahkan sinyal mereka melalui Perancis, Korea Selatan, dan Taiwan untuk menyembunyikan keberadaannya.
Korea Utara berkeras mengembangkan senjata nuklir mesti dikecam komunitas global. (AFP PHOTO/Kim Won-Jin) |
Maraknya aksi peretasan ini bertepatan dengan upaya global memblokir Korut dari sistem keuangan global sebagai hukuman atas ambisi nuklirnya yang kian mengkhawatirkan.
PBB juga telah menetapkan sanksi bagi setiap negara yang berupaya melakukan hubungan bisnis dan ekonomi dengan rezim Kim Jong-un tersebut.
Seakan tak mempan, penyelidik PBB menyebut Korut memanfaatkan agen intel mereka untuk mengakses bank-bank global.
Rezim Korut juga disebut menggunakan nama beberapa anak perusahaan China dan Malaysia pada sejumlah bank mereka untuk menyembunyikan aktivitasnya.
"Kita semua cenderung menggurui dan mengolok-olok Korut. tapi selama beberapa dekade terakhir, Korut telah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka mampu melakukan sesuatu, khususnya dalam kejahatan siber ini," ungkap pengamat Korea sekaligus dosen di Universitas Tufts, Dilansir CNN.
Korea Utara berkeras mengembangkan senjata nuklir mesti dikecam komunitas global. (AFP PHOTO/Kim Won-Jin)