Pasca Penembakan, Capres Perancis Adu Argumen soal Kampanye

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 21/04/2017 07:53 WIB
Pasca Penembakan, Capres Perancis Adu Argumen soal Kampanye Dalam kampanye pemilu kali ini, kelima capres memang kerap menyoroti masalah terorisme, mengingat negara itu tengah dalam status darurat pasca rangkaian teror yang sudah menewaskan setidaknya 230 orang selama dua tahun belakangan. (Reuters/Patrick Kovarik)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perancis berduka setelah aksi penembakan di Paris yang menewaskan satu polisi pada Kamis (20/4), hanya berselang tiga hari menuju pemilihan umum presiden. Para calon presiden pun bersilang pendapat mengenai keberlangsungan kampanye.

Kandidat presiden dari Partai Republik, Francois Fillon, membatalkan rencana kampanyenya di Alps pada Jumat (21/4) dan mendorong para rivalnya untuk mengikuti jejaknya.

"Dalam konteks sekarang ini, tak ada alasan untuk melanjutkan kampanye. Kita harus menunjukkan solidaritas kita dengan kepolisian," ujar Fillon kepada France 2, sebagaimana dikutip Reuters.
Selama ini, Fillon selalau menekankan kampanyenya pada peningkatan keamanan nasional. Ia mengatakan, pemberantasan "Islam totaliter" harus menjadi prioritas utama presiden selanjutnya.


Berbeda pendapat dengan Fillon, capres dari Partai Sosialis, Jean-Luc Melenchon, mengatakan bahwa para kandidat seharusnya tidak terbelenggu dalam ketakutan.

"Sembari menunggu informasi pasti, saya rasa kita harus memenuhi tugas kita sebagai warga, yaitu jangan panik. Kita tidak seharusnya mengganggu proses demokrasi," ucap Melenchon.

Sementara itu, capres sayap kanan, Marine Le Pen, hanya menanggapi insiden ini dengan kembali menekankan rencananya jika terpilih, yaitu memperketat imigrasi sehingga tak ada teroris menyelusup di tengah pengungsi.

"Saya tidak mau kita terbiasa dengan terorisme. Kita harus berhenti bersikap naif. Kita tidak bisa mewariskan kepada anak kita sebuah negara yang tidak bisa melindungi mereka," tutur Le Pen.

Sebelumnya, kandidat presiden lainnya, Emmanuel Macron, menanggapi aksi teror ini dengan mengatakan bahwa tugas utama dari seorang presiden adalah melindungi rakyatnya.
Presiden Perancis, Francois Hollande, sendiri sudah menjamin akan meningkatkan keamanan negaranya setelah serangan yang diklaim oleh ISIS ini terjadi.

Menjelang pemilu yang akan diselenggarakan pada 23 April mendatang, Perancis sebenarnya sudah meningkatkan keamanan. Pada awal pekan ini, dua orang ditahan di Marseille karena diduga akan melancarkan serangan saat pemilu.

Dalam kampanye pemilu kali ini, kelima capres memang kerap menyoroti masalah terorisme, mengingat negara itu tengah dalam status darurat pasca rangkaian teror yang sudah menewaskan setidaknya 230 orang selama dua tahun belakangan.

Jajak pendapat terakhir menunjukkan, Macron dan Le Pen masih memimpin perolehan dukungan dengan selisih angka tipis. Macron memimpin dengan 24,5 persen dukungan, disusul Le Pen di angka 21 persen.