Capres Perancis: Dari Ekstrem Kanan Hingga Sosialis Komunis

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Minggu, 23/04/2017 19:43 WIB
Capres Perancis: Dari Ekstrem Kanan Hingga Sosialis Komunis Pemilu Perancis yang berlangsung dua putaran mulai 23 April ini diramaikan sekitar 11 kandidat, mulai dari politikus ekstrem kanan hingga tokoh sosialis. (Foto: REUTERS/Patrick Kovarik)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan Presiden Perancis tahun 2017 yang akan berlangsung dua putaran, yakni pada 23 April dan 7 Mei, seakan menjadi sorotan tak hanya bagi publik sendiri tapi juga warga Eropa secara keseluruhan.

Sekitar 11 kandidat presiden yang terdiri dari empat calon dominan mewarnai pemilu kali ini.

Mereka berasal dari ragam kalangan, mulai dari politikus ekstrem kanan yang dikhawatirkan akan membawa kebangkitan populisme di Perancis, calon konservatif yang tengah dirundung skandal politik, hingga sosialis sayap kiri.

Siapa saja yang akan bertarung menyetir perpolitikan Perancis untuk lima tahun ke depan? Apa saja kepentingan mereka dalam pemilu kali ini?

Berikut ulasan calon presiden Perancis yang bersaing dalam putaran pertama pemilu pada Minggu (23/4).


Marine Le Pen
Politikus esktrem kanan ini juga memiliki pandangan keras terhadap Muslim dan kaum imigran. Politikus esktrem kanan ini juga memiliki pandangan keras terhadap Muslim dan kaum imigran (Reuters/Yves Herman)
Sejak menjadi ketua Partai Front Nasional (FN) pada 2011 silam, Le Pen terus menggaungkan kampanye anti-Uni Eropa dan mendorong Perancis untuk mengikuti tetangganya di utara, Inggris, untuk keluar dari Uni Eropa.

Politikus esktrem kanan ini juga memiliki pandangan keras terhadap Muslim dan kaum imigran. Perempuan berusia 48 tahun ini dipandang sebagai capres yang paling tegas menekankan isu keamanan nasional.

Dalam kampanyenya, Le Pen meminta Perancis "segera" merebut kembali kendali perbatasan dari Uni Eropa dan mendeportasi semua warga asing yang dicurigai terlibat terorisme.

Semasa kampanye, Le Pen juga pernah membandingkan warga Muslim yang beribadah di jalanan dengan okupasi Nazi. Dia mengatakan, "Kami tidak ingin hidup di bawah tirani fundamentalisme."

Di tengah masa kampanye, mantan pengacara dan ibu dari tiga anak ini juga menghadapi tudingan dalam skandal dana dana Eropa. Le Pen dituding menggunakan dana Uni Eropa sebesar 298 ribu euro untuk membayar asistennya di Perancis, Catherine Griset, antara Desember 2010 dan 2016.

Capres yang mendapat dukungan kuat dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump ini menganggap pemilu merupakan pertarungan antara "patriot" yang siap mempertahankan Perancis dan nilai-nilai dasarnya dari ancaman "globalisasi."

Le Pen adalah salah satu kandidat terkuat yang kemungkinan besar akan mencapai pemilu putaran kedua, Mei nanti.


Emmanuel Macron
Macron berpeluang besar menjadi presiden termuda Perancis dalam sejarah.Macron berpeluang besar menjadi presiden termuda Perancis dalam sejarah. (REUTERS/Christian Hartmann)


Di usia ke-39, Macron merupakan pesaing terkuat Le Pen yang berpeluang besar menjadi presiden termuda Perancis dalam sejarah.

Diberitakan The Guardian, mantan menteri ekonomi tersebut ingin mematahkan "kehampaan" politik Perancis. Penasihat Presiden Francois Hollande ini merasa optimis dapat memperbaharui politik dan ekonomi Perancis berbasis pro-bisnis dan pro-Eropa.

Banker yang tak pernah menjabat sebagai anggota parlemen ini menganggap dirinya bukan lah seorang yang mendekat ke sayap kanan atau kiri, tapi seorang liberalis yang "pragmatis dan adil" serta progresif dalam masalah sosial.

Dianggap mahasiswa cemerlang, Macron sempat bekerja sebagai penasihat ekonomi untuk Presiden Francois Hollande sebelum diangkat menjadi menteri ekonomi pada 2014.

Macron pernah memperkenalkan "Undang-Undang Macron", sebuah aturan kontroversial yang memungkinkan toko-toko lebih sering buka di hari Minggu dan menderegulasi sejumlah sektor industri.

Aturannya mendapat dukungan segar dari kaum pengusaha Perancis namun menimbulkan pertentangan bagi pejabat sosialis sayap kiri.

Semasa kampanye, Macron berencana meningkatkan investasi publik sebesar US$53 miliar untuk menutup biaya pelatihan-pelatihan angkatan kerja dan mengurangi tingkat pengangguran menjadi 7 persen dari saat ini sekitar 9,7 persen.

Dia juga berencana mengalihkan sumber daya energi nasional sepenuhnya dari batu bara menjadi berbasis energi terbarukan. Macron juga berencana memotong pengularan pajak perusahaan dan memberikan sejumlah kelonggaran lain bagi korporasi.


Francois Fillon
Fillon memiliki sejumlah program salah satunya yakni rencana menghapus pajak kesehatan (ISF) dan meningkatkan sanksi Uni Eropa terhadap Rusia Fillon memiliki sejumlah program salah satunya yakni rencana menghapus pajak kesehatan (ISF) dan meningkatkan sanksi Uni Eropa terhadap Rusia. (REUTERS/Philippe Wojazer)
Mantan perdana menteri era Presiden Nicolas Sarkozy ini merupakan veteran politik yang sempat digadang sebagai capres terfavorit, sebelum skandal penggelapan dan penyalahgunaan dana publik menyeret nama dia dan istrinya, Penelope Fillon.

Kasus ini mencuat sekitar Januari lalu ketika surat kabar Perancis, Le Canard Enchaine, menuding Penelope menerima gaji sebesar 900 ribu euro sebagai asisten parlemen Fillon selama beberapa tahun.

Namun di sisi lain, Penelope tidak memiliki tanda lolos seleksi pekerjaan dan alamat surat elektronik resmi sebagai seorang pegawai parlemen.

Setelah melakukan penyelidikan awal, jaksa keuangan memutuskan telah mendapat cukup bukti untuk melanjutkan penyelidikan mengenai pekerjaan “fiktif” Fillon ini.

Berdasarkan jajak pendapat, elektabilitas Fillon yang sempat berada diposisi tertinggi terus terpuruk seiring dengan keterlibatannya dalam skandal tersebut.

Pria berusia 62 tahun itu bahkan diprediksi tak akan sanggup menembus putaran kedua pemilu pada Mei mendatang. Berdasarkan jajak pendapat terbaru, Fillon diprediksi berada di posisi ketiga atau keempat menjauhi Le Pen dan Macron.

Dalam kampanye, Fillon memiliki sejumlah program salah satunya yakni rencana menghapus pajak kesehatan (ISF), meningkatkan sanksi Uni Eropa terhadap Rusia, dan membantu Presiden Suriah Bashar al-Assad memberangus teroris ISIS.

Jean-Luc Melenchon
Pria berusia 65 tahun itu merupakan salah satu kritikus pemerintahan Presiden Francois Hollande paling keras.Pria berusia 65 tahun itu merupakan salah satu kritikus pemerintahan Presiden Francois Hollande paling keras. (REUTERS/Martin Bureau)
Politikus komunis ini menjadi salah satu pesaing berat dalam pertarungan pemilu di tengah lemahnya dukungan gerakan sosialis di negara itu.

Melechon sedikit berada di atas angin setelah berhasi keluar sebagai salah satu dari empat kandidat dominan dalam pilpres tahun ini dengan retorika berapi-apinya.

Pria berusia 65 tahun itu merupakan salah satu kritikus pemerintahan Presiden Hollande paling keras, khususnya mengenai keanggotaan Perancis di Uni Eropa.

Salah program kampanye Melechon adalah ingin menghapuskan sistem presidensial menjadi sistem perlementer. Dia bahkan menjanjikan paket stimulus US$107 miliar untuk mendongkrak perekonomian nasional dan berjanji menerapkan sistem ekonomi "yang lebih hijau" dan berkelanjutan.

Melechon juga berencana mengeluarkan Perancis dari NATO, meninggalkan pengembangan nuklir, dan lebih mendekatkan diri dengan Rusia. Ia juga ingin melakukan renegoisasi persyaratan keanggotaan Perancis di Uni Eropa dengan menjanjikan menggelar referendum.

Benoit Hamon
Benoit Hamon dikenal sebagai Benoit Hamon dikenal sebagai "Bernie Sanders-nya Perancis" berencana melegalkan ganja dan membatalkan UU yang dapat mempermudah perekrutan dan pemecatan pekerja. (REUTERS/Charles Platiau)
Oposisi sosialis sayap kiri mengundurkan dari jabatan kepemerintahannya pada 2014 silam sebagai bentuk protes atas kebijakan pengurangan hutang negara.

Dikenal sebagai "Bernie Sanders-nya Perancis", mantan menteri pendidikan ini telah berjuang keras selama kampanye untuk mendulang dukungan dari Partai Sosialis yang terpecah.

Pria berusia 49 tahun itu berencana melegalkan kepemilikan cannabis atau ganja di negata itu dan memungkut pajak kekayaan terhadap sejumlah penggunaan teknologi yang menggantikan pekerjaan manusia.

Dia juga berencana membatalkan Undang-Undang tahun 2016 sehingga mempermudah perekrutan dan pemecatan pekerja.

Hamon juga berencana meningkatkan upah bagi mereka yang berpenghasilan kurang dari 2.185 euro per bulan. Sementara itu, pengangguran akan menerima hingga 600 euro dengan upah minimum sekitar 200 euro per bulan.

Hamon berencana meningkatkan penggunaan energi terbarukan hingga 50 persen dari total energi negara pada 2025. Dia juga berencana menarik energi nuklir pada tahun 2050.

Enam Kandidat Lain
 Dari Kiri ke Kanan: Nathalie Arthaud, Francois Asselineau, Jacques Cheminade, Nicolas Dupont-Aignan, Jean Lassalle, dan Philippe PoutouDari Kiri ke Kanan: Nathalie Arthaud, Francois Asselineau, Jacques Cheminade, Nicolas Dupont-Aignan, Jean Lassalle, dan Philippe Poutou. (REUTERS/Charles Platiau)
Diberitakan AFP, Minggu (23/4), selain lima kandidat dominan, ada enam capres lain juga turur meramaikan pemilu Perancis tahun ini.

Nathalie Arthaud, 47, seorang pengajar ekonomi yang berasal dari Partai Trotskyist meruap sedikitnya 0.5 persen suara dalam pemilu 2012 silam.

Francois Asselineau, 59, politikus nasionalis ekstrem kanan yang sangat anti-Amerika dan juga anti-Uni Eropa. Asselineau meyakini bahwa blok perdagangan Eropa itu adalah plot yang didukung Badan Pusat Intelijen AS (CIA).

Jacques Cheminade, 75, seorang veteran pegawai sipil yang juga pernah mencalonkan diri di pemilu lima tahun lalu.

Nicolas Dupont-Aignan, 56, pembela kedaulatan Perancis yang ingin membuang euro dan Uni Eropa. Dupont-Aignan mendapat dukungan hampir 1,8 persen dalam pilpres 2012 lalu.

Jean Lassalle, 61, anggota parlemen dari wilayah Pyrenees yang menganggap dirinya sebagai "gembala di Istana Elysee" ini menginginkan renegosiasi traktat Eropa.

Terakhir, Philippe Poutou, 50, seorang montir mekanik dari Paertai Anti-Kapitalis Baru yang terangkat namanya dengan memperjuangkan pekerjaan para buru di sebuah pabrik mobil Ford.