Terorisme Bayangi Prediksi Pemilu Perancis
CNN Indonesia
Minggu, 23 Apr 2017 13:13 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Pembunuhan seorang polisi oleh militan Islamis mendorong masalah keamanan nasional ke puncak agenda politik di Pemilihan Umum Presiden Perancis.
Menjelang pemilihan putaran pertama, Minggu (23/4) waktu setempat, kandidat ekstrem kanan Marine Le Pen berjanji akan memperketat imigrasi dan kendali perbatasan untuk mengalahkan "terorisme Islamis" jika terpilih.
Serangan ini memberikan kesempatan bagus bagi Le Pen untuk mengangkat kebencian terhadap imigran dan Muslim, juga kekhawatiran warga akan perlindungan dari terorisme.
Baru minggu lalu, dengan perolehan dukungan yang mulai melorot, Le Pen mencoba untuk mengumpulkan dukungan dengan jelas-jelas mengangkat kebencian terhadap Muslim dan Imigran.
Belum jelas apakah pertaruhannya itu membawa dampak yang besar, sementara semua kandidat mencoba untuk memosisikan diri menjadi kandidat yang paling tegas melawan terorisme.
Le Pen juga menghina Presiden Francois Hollande dan berjanji akan menjadi pemimpin yang jauh lebih kuat.
"Selama 10 tahun, di bawah pemerintahan kiri dan kanan, semua yang dilakukan membuat kita menjadi pecundang," ujar Le Pen di markas partainya, Front Nasional.
"Kita harus punya presiden yang mau bertindak dan melindungi."
Pemerintah bereaksi keras: Le Pen "mencoba, seperti yang selalu dia lakukan setelah terjadi sebuah tragedi, untuk mengambil keuntungan dalam rangka memicu perpecahan," kata Perdana Menteri Bernard Cazeneuve.
"Dia dengan tidak tahu malunya mencoba mengeksploitasi ketakutan dan emosi hanya untuk kepentingan politik."
Sementara politikus moderat Emmanuel Macron, yang tipis berada di atas Le Pen dalam survei jelang pemilihan, mengatakan solusi permasalahan keamanan tidak sesederhana yang disampaikan rivalnya, dan "tidak ada yang namanya keadaan bebas risiko sama sekali."
Siapa pun yang tidak sepakat dengan hal itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab, kata mantan Menteri Ekonomi dalam pemerintahan yang berulang kali dikritisi Le Pen karena masalah keamanan itu.
Menjelang pemilihan putaran pertama, Minggu (23/4) waktu setempat, kandidat ekstrem kanan Marine Le Pen berjanji akan memperketat imigrasi dan kendali perbatasan untuk mengalahkan "terorisme Islamis" jika terpilih.
Serangan ini memberikan kesempatan bagus bagi Le Pen untuk mengangkat kebencian terhadap imigran dan Muslim, juga kekhawatiran warga akan perlindungan dari terorisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum jelas apakah pertaruhannya itu membawa dampak yang besar, sementara semua kandidat mencoba untuk memosisikan diri menjadi kandidat yang paling tegas melawan terorisme.
Le Pen juga menghina Presiden Francois Hollande dan berjanji akan menjadi pemimpin yang jauh lebih kuat.
"Selama 10 tahun, di bawah pemerintahan kiri dan kanan, semua yang dilakukan membuat kita menjadi pecundang," ujar Le Pen di markas partainya, Front Nasional.
"Kita harus punya presiden yang mau bertindak dan melindungi."
Pemerintah bereaksi keras: Le Pen "mencoba, seperti yang selalu dia lakukan setelah terjadi sebuah tragedi, untuk mengambil keuntungan dalam rangka memicu perpecahan," kata Perdana Menteri Bernard Cazeneuve.
"Dia dengan tidak tahu malunya mencoba mengeksploitasi ketakutan dan emosi hanya untuk kepentingan politik."
Sementara politikus moderat Emmanuel Macron, yang tipis berada di atas Le Pen dalam survei jelang pemilihan, mengatakan solusi permasalahan keamanan tidak sesederhana yang disampaikan rivalnya, dan "tidak ada yang namanya keadaan bebas risiko sama sekali."
Siapa pun yang tidak sepakat dengan hal itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab, kata mantan Menteri Ekonomi dalam pemerintahan yang berulang kali dikritisi Le Pen karena masalah keamanan itu.
Bukan Hanya Le Pen
BACA HALAMAN BERIKUTNYA