Berangus Taliban, AS Akan Kirim Ribuan Pasukan ke Afghanistan

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 05/05/2017 10:23 WIB
Berangus Taliban, AS Akan Kirim Ribuan Pasukan ke Afghanistan Dengan restu Presiden Donald Trump, Pentagon berencana kirimkan sekitar 3.000-5.000 pasukan ke Afghanistan untuk memecah kebutuan perang melawan Taliban. (Foto: REUTERS/Lucas Jackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pertahanan Amerika Serikat meminta Gedung Putih menyetujui pengiriman ribuan pasukannya ke Taliban sebagai upaya memecahkan pertempuran buntu melawan kelompok Taliban, seorang pejabat senior Pentagon mengatakan.

Setelah merampingkan jumlah pasukannya sejak 2011 lalu, militer AS mengatakan masih membutuhkan pasukannya di negara Asia Selatan itu guna membantu militer Afghanistan menguasai kembali daerah-daerah yang selama ini direbut Taliban.

"Saya berharap proposal ini akan diajukan ke Presiden minggu depan. Tujuan misi ini adalah memecah kebuntuan dan mengingatkan bahwa Afghanistan adalah mitra yang sangat penting bagi Amerika di kawasan yang rumit ini," tutur Asisten Menteri Pertahanan untuk Misi Khusus, Theresa Whelan, dalam sebuah sidang komite di Senat, Kamis (4/5).



Menurut laporan sejumlah media AS, Pentagon berencana mengerahkan 3.000 hingga 5.000 tentara lagi, yang khusus ditugaskan melatih pasukan militer dan polisi Afghanistan.

Saat ini, pasukan AS di Afghanistan berjumlah sekitar 8.400 orang, di tambah sekitar 5.000 pasukan NATO. Jumlah ini berkurang jauh dibanding enam tahun lalu, saat Washington menempatkan sekitar 100 ribu pasukannya di negara itu.

Sejak pengurangan besar-besaran tentara AS, pasukan Afghanistan berjuang mengisi kekosongan di tengah pemberontakan Taliban yang terus berlangsung.

NATO secara resmi mengakhiri operasi memberangus Taliban pada akhir 2014 silam. Saat ini, misi pasukan NATO di sana murni untuk melatih para tentara Afghanistan.

Meski aksi militer AS terus berkurang dalam beberapa tahun terakhir, pada 2016 lalu Presiden Barack Obama meluncurkan serangan udara terhadap Taliban dalam sejumlah kasus-kasus tertentu.


Langkah ini dilaporkan dilakukan untuk memastikan bahwa pasukan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani mendapatkan "keuntungan strategis" di lapangan guna
memberangus kelompok militan itu.

Sementara di masa pemerintahan AS yang baru, Presiden Donald Trump dianggap bisa melakukan hal yang lebih jau dengan memberi kewenangan yang lebih luas bagi pasukan AS.

Menurut Komandan Komando Operasi Khsuus AS, Raymond Thomas, pasukannya bisa berperan lebih banyak lagi untuk memerangi Taliban secara langsung.

"Perubahan peraturan sedang dipertimbangkan," katanya seperti dikutip AFP.