Pihak pemberontak menyatakan tak akan mengakui Iran menjadi salah satu pihak penengah serta penjamin dalam kesepakatan gencatan apa pun di Suriah.
"Kami ingin Suriah menjaga integritasnya," ucap delegasi oposisi, Osama Abu Zaid, Jumat (5/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah memiliki kesepakatan di tangan kita, kenapa tak diimplementasikan?" kata Zaid mengacu pada kesepakatan gencatan senjata yang sudah berlangsung sejak Desember lalu.
"Kenapa sekarang kita malah melompat untuk membentuk zona aman? Rusia tidak dapat atau tidak ingin mengimplementasikan janji-janji yang mereka buat. Dan hal ini adalah masalah yang fundamental," tuturnya menambahkan.
Negosiator Rusia Alexander Lavrentyev menuturkan, di bawah rencana Moskow ini, Negeri Beruang Merah dapat mengirim pengawas ke zona aman.
Dia mengatakan, pemantau pihak ketiga dapat diundang dalam perundingan rencana ini asalkan Iran dan Turki menyetujuinya.
Ankara yang selama ini mendukung pemberontak, dan Teheran yang berpihak pada Assad menyetujui usulan Moskow membentuk "zona de-eskalasi" di Suriah. Di sisi lain, langkah itu disambut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) namun diragukan Amerika Serikat.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bersama Arab Saudi mendukung rencana zona aman ini, dengan memperingatkan seluruh pihak perlu mengutamakan "peningkatan kesejahteraan warga sipil Suriah, seperti dikutip Reuters.