Usai Brexit di Inggris dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, kini giliran Perancis yang akan membawa perubahan politik signifikan bagi dunia.
Partai Sosialis dan sayap kanan telah memerintah Perancis sejak era 50-an, namun tatanan konvensional itu kini bergeser.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siapapun yang terpilih, baik itu penganut haluan tengah Emmanuel Macron atau kandidat populis Marine Le Pen, Perancis kini berada di tepi perubahan.
Le Pen, sudah menguasai delapan kota dan punya dukungan dari 20 anggota Senat, namun dia mendapat banyak kecaman dari politisi mayoritas. Melansir AFP, alasannya karena visinya yang dianggap berisiko bagi Perancis, terutama soal pandangannya tentang kelompok militan Islam dan imigran.
Sementara, Macron yang merupakan kandidat independen yang berkampanye lewat gerakan En Marche! adalah kuda hitam. Tidak diperhitungkan namun sukses mendulang banyak suara. Selain karirnya sebagai bankir dan masuk kabinet Presiden Francois Hollande sebagai Menteri Ekonomi, nama Macron belum terdengar di liga politik Perancis.
Oleh karena itu, di Pemilu 2017 ini, warga Perancis akan menentukan masa depan baru sekaligus menggariskan posisi negaranya di jantung Uni Eropa.
Marine Le Pen mengusung gagasan 'France First' dan berniat membawa Perancis melepaskan diri dari Uni Eropa. (REUTERS/Patrick Kovarik)