Dorong Dialog dengan Korut, Moon Jae-in jadi Presiden Korsel

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 10/05/2017 06:30 WIB
Dorong Dialog dengan Korut, Moon Jae-in jadi Presiden Korsel Moon Jae-in (kanan) meraup perolehan suara tertinggi dalam pemilu Korsel, diikuti oleh Hong Joon-pye (kiri) yang berada di urutan kedua. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus liberal Moon Jae-in memenangkan pemilihan umum Korea Selatan dengan mutlak, Selasa (9/5), mengakhiri kekuasaan konservatif yang sudah berlangsung selama hampir satu dekade dan membawa pendekatan yang lebih bersifat mendamaikan dengan Korea Utara.

Kemenangan Moon sekaligus mengakhiri kekisruhan politik selama berbulan-bulan yang berujung pada pemakzulan mantan presiden konservatif, Park Geun-hye atas dugaan korupsi. Park jadi presiden pertama di Korsel yang dipilih secara demokratis dan dimakzulkan, memicu pemilu lebih cepat untuk memilih penerusnya.

Pemilu ini diawasi ketat oleh negara-negara asing di tengah ketegangan dengan Korea Utara, yang diyakini sedang mempersiapkan uji coba nuklir keenam dan mengembangkan peluru kendali dengan kemampuan mencapai Amerika Serikat, menghadirkan tekanan bagi Presiden Donald Trump.
Pendekatan Moon ke Korea Utara kontras dengan sikap yang diambil Amerika Serikat, sekutu utama Korea Selatan, yang mencoba untuk meningkatkan tekanan terhadap Pyongyang melalui isolasi dan sanksi lebih jauh.

Gedung Putih, walau demikian, langsung memberi ucapan selamat pada Moon, menyatakan harapan untuk bekerja sama dalam memperkuat hubungan AS-Korsel yang sudah lama terjalin.

Menaiki panggung sementara yang didirikan di pusat kota Seoul, Moon, mantan pengacara HAM berusia 64 tahun yang baru berkecimpung di dunia politik lima tahun lalu, bersumpah untuk menghadirkan era baru bagi negeri yang sedang berusaha pulih dari skandal.

"Saya akan membuat negara yang adil dan bersatu," ujarnya dalam pidato kemenangan yang dikutip Reuters. "Saya akan jadi presiden yang juga melayani semua orang yang tidak mendukung saya."
Dengan 80 persen suara yang masuk pada 17.05 GMT, atau tengah malam waktu Indonesia, Moon berada di puncak perolehan dengan angka 40 persen, menurut Komisi Pemilihan Umum Nasional. Penantang konservatif sekaligus mantan jaksa, Hong Joon-pye, ada di posisi kedua dengan 25,5 persen suara, diikuti sentris Ahn Cheol-soo dengan 21,4 persen.

Pluralitas suara itu cukup untuk membawanya ke kursi presiden. Namun, dengan 40 persen dari Dewan Perwakilan yang terdiri atas 299 kursi, Moon mesti membangun koalisi untuk meloloskan undang-undang.

Hasil perolehan suara ini sesuai dengan survei terakhir yang diadakan tiga stasiun televisi terbesar Korea yang menyebut Moon meraup 41,4 persen suara di antara 13 kandidat.

Jumlah pemilih mencapai 77,2 persen, tertinggi selama 20 tahun terakhir. Namun, angka itu tidak memenuhi ekspektasi 80 persen, kemungkinan karena gerimis yang menyertai waktu pemungutan suara.
Seorang pejabat AS menyebut pemilihan Moon bisa menambah ketidakstabilan hubungan dengan Washington, karena ia mempertanyakan pengerahan sistem pertahanan peluru kendali di negaranya dan mendukung dialog dengan Korut.

Namun, dia juga mengatakan Moon mungkin akan melunakkan sikap soal pengerahan sistem yang disebut THAAD itu setelah resmi menjabat dan diharapkan tidak mengubah hubungan kedua negara secara signifikan.

Juru bicara Gedung Putih, Sean Spicer, memberi ucapan selamat kepada Moon dan mengatakan: "Kami berharap bisa bekerja sama dengan Presiden terpilih Moon untuk terus memperkuat hubungan antara Amerika Serikat dan Republik Korea."