"Sangat jelas jika Presiden Rouhani kembali terpilih, itu akan banyak kebijakan luar negeri Iran yang tetap sama selama tiga tahun terakhir kami amati ini," ujar Sadeq Zibakalam, profesor ilmu politik Universitas Teheran.
Rouhani dikenal sebagai tokoh reformis dan cukup koperatif dengan dunia internasional, khususnya Negara Barat. Di masa pemerintahannya, Rouhani mampu menghasilkan kesepakatan nuklir yang disetuji Iran dan sejumlah negara Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zibakalam menuturkan, di bawah Rouhani, kebijakan Iran terhadap dunia internasional--khususnya hubungan Teheran-Negara Barat--akan tetap kooperatif dalam tingkatan tertentu.
Salah satu yang terpenting, kesepakatan nuklir Iran di bawah Rouhani akan tetap berjalan sesuai rencana.
Seandainya politikus moderat dan pragmatis itu kalah dari rival terkuatnya, Ebrahim Raisi--seorang ulama konservatif garis keras--kebijakan Teheran terhadap dunia global, khsususnya negara Barat, dianggap bisa berubah 180 derajat.
Menurut Zibalakam, jika kelompok garis keras menang dalam pemilu tahun ini, seruan dan sikap anti-Barat nampaknya akan kembali mencuat.
Sejumlah upaya normalisasi hubungan dan kepercayaan dengan pihak Barat pun dianggap bisa terancam jika Raisi berhasil merebut kursi kepresidenan.
Lihat juga:Hassan Rouhani Diprediksi Menang Pemilu Iran |
"Jika Raisi menang, ini akan menjadi langkah mundur. Raisi yang berasal dari garis keras akan memproyeksikan kebijakannya yang konservatif," ucap Zibalakam, seperti dikutip Xinhua.
"Mereka akan melupakan pendekatan Iran terhadap sejumlah negara asing lain, bahkan mengembalikan sikap anti AS yang meneyrukan penghancuran Israel. Selain itu, sangat mungkin kesepakatan nuklir yang berhasil disetujui Iran dan enam negara Barat termausk AS rusak," Zibalakam memperingatkan.
Dalam hal ekonomi, Raisi nampaknya akan menerapkan kebijakan yang lebih proteksionis. Sebab, semasa kampanye, Raisi menggaungkan konsep "ekonomi resistensi" bagi Iran yang dirancang untuk melindungi bisnis domestik yang terhubung secara politik.
Konsep ekonomi itu juga meminimalisir kebergantungan Iran dengan dunia asing, khususnya Negara Barat.