"Kami bertanggung jawab penuh dan kami sangat menyesal itu semua terjadi. Kami mengutuk karena informasi itu tersebar dengan cara yang tidak layak," ujar Tillerson, sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (26/5).
Pernyataan ini dilontarkan oleh Tillerson setelah Inggris menangguhkan kerja sama berbagi informasi intelijen dengan AS karena sejumlah data mengenai penyelidikan yang diklaim oleh ISIS itu bocor ke media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Dalam Negeri Inggris, Amber Rudd, mengonfirmasi bahwa pelaku bernama Salman Abedi, seorang warga keturunan Libya.
Akibat teror ini, pemerintah meningkatkan keamanan nasional hingga ke level kritis, yang berarti serangan bisa terjadi kembali.