Lewat Telepon, Trump Gertak Presiden Meksiko soal Tembok

Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 04/08/2017 06:55 WIB
Lewat Telepon, Trump Gertak Presiden Meksiko soal Tembok Presiden Trump dilaporkan menggertak Enrique Pena Nieto melalui panggilan telepon terkait tembok perbatasan Meksiko. (AFP Photo/Olivier Douliery)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Presiden Meksiko untuk berhenti menyuarakan penentangan publik atas rencananya membuat negara itu membayar pembangunan tembok perbatasan.

Hal ini diketahui lewat transkrip percakapan kedua pemimpin negara di hari pertama Trump menjabat. Transkrip yang berisi percakapan Trump dengan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull itu baru dilaporkan The Washington Post, Kamis (4/8), dikutip Reuters.

Substansi percakapan telepon itu sebelumnya sudah pernah dilaporkan. Namun, transkrip panjang ini menunjukkan bagaimana Trump, yang pertama kali memenangkan pemilu, mencoba menggunakan gertakan dan pernyataan keras di dunia diplomasi.

Trump berselisih pendapat dengan Turnbull soal pengungsi dalam panggilan telepon 28 Januari. Ia mengatakan lawan bicaranya itu "tidak menyenangkan."

Sehari sebelumnya, Trump mendesak Pena Nieto untuk menghindari pernyataan publik yang menyuarakan bahwa Meksiko tidak akan mendanani pembangunan tembok tersebut.

Ia mengatakan kepada Pena Nieto, "jika Anda ingin mengatakan Meksiko tidak mau membayar tembok itu, maka saya tidak mau bertemu dengan kalian lagi karena saya tidak bisa menerima itu."

"Anda tidak mengatakan itu kepada pers," kata Trump.
Namun, dia juga memuji "kata-kata indah" lawan mainnya dan mengatakan dirinya berharap Meksiko akan mengubah konstitusi agar Pena Nieto bisa lebih lama menjabat.

Gedung Putih menyatakan pemerintah AS akan membayar dulu pembangunan tembok itu agar bisa segera dimulai, tapi Meksiko mesti menebusnya belakangan.

Tembok yang diusulkan itu bertujuan untuk mencegah imigrasi ilegal ke Amerika Serikat. Rencana ini menjadi masalah utama antara kedua negara setelah Pena Nieto berulang kali menolak janji Trump semasa kampanye itu.





(aal)