Intelijen Korsel Akui Manipulasi Pemilu 2012

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 04/08/2017 20:45 WIB
Intelijen Korsel Akui Manipulasi Pemilu 2012 Ilustrasi. (Reuters/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) mengaku pernah berupaya memanipulasi pemilihan umum 2012 lalu demi membantu partai konservatif memenangkan pertarungan.

Penyelidik NIS mengonfirmasi unit sibernya mengatur dan mengoperasikan sekitar 30 tim selama lebih dari dua tahun sebelum pemilu 2012 berlangsung, saat Korsel masih dipimpin presiden konservatif, Lee Myung Bak.

"Tim-tim tersebut dituduh menyebarkan pendapat pro-pemerintah dan menekan pandangan anti-pemerintah. Mereka juga berusaha membuat pandangan oposisi agar dianggap sebagai pandangan pro-Korea Utara yang ingin menganggu urusan negara," bunyi pernyataan NIS pada Jumat (4/8).


Diberitakan AFP, NIS bahkan mengaku sempat merekrut warga sipil yang ahli internet dan siber guna membantu mereka memengaruhi suara pemilih melalui sejumlah media sosial seperti Twitter.

Berdasarkan investigasi NIS, skala manipulasi suara pemilu 2012 lalu bahkan jauh lebih luas dari perkiraan selama ini.

Pada akhirnya, pemilu 2012 lalu dimenangkan oleh Park Geun-hye, presiden perempuan pertama Korsel dari partai konservatif Saenuri. Park berhasil mengalahkan Moon Jae-in dari partai liberal.

Namun, pada Meret lalu Park dimakzulkan karena terseret kasus korupsi. Kini, jabatan presiden dipegang Moon setelah berhasil memenangkan pemilu pada Mei lalu.

Moon memerintahkan kasus Park diadili secara tuntas. Eks advokat HAM ini pun bersumpah akan mereformasi NIS agar tak lagi ikut campur dalam urusan politik negara.

Sang presiden meminta NIS fokus pada urusan intelijen seperti mengumpulkan informasi mengenai Korut dan negara lain.

Beberapa tahun terakhir, kredibilitas NIS dipertanyakan karena sejumlah skandal yang menyeret nama badan intelijen tersebut.

Salah satu skandal yang menjadi sorotan publik adalah kasus pembuatan dokumen intelijen palsu soal eks pejabat kota Seoul yang berhasil lolos dari Korut pada 2004 lalu.

Eks kepala NIS, Won Sei-Hoon, bahkan telah diadili untuk kedua kalinya karena kedapatan memimpin operasi siber demi menjatuhkan citra Moon.

Penyelidikan internal juga mendapati Won memerintahkan unit siber NIS untuk memberangus pers dan memberikan dukungan bagi kelompok masyarakat sipil pro-pemerintahan konservatif.

Tak hanya itu, Won juga kedapatan melakukan pengintaian dan pengawasan terhadap sejumlah politikus oposisi utama secara diam-diam.