Lihat Pemenggalan dan Bom, Anak-Anak Raqqa Menderita

AFP, CNN Indonesia | Senin, 28/08/2017 09:19 WIB
Lihat Pemenggalan dan Bom, Anak-Anak Raqqa Menderita Ilustrasi anak-anak Suriah korban kejahatan ISIS. (Reuters/Khalil Ashawi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anak-anak yang melarikan diri dari Raqqa, Suriah, tersiksa selama bertahun-tahun karena hidup di bawah kekuasaan dan kekekejaman ISIS yang berpuncak pada serangkaian serangan bom di kota tersebut.

Menurut organisasi amal Save the Children, anak-anak itu bisa jadi butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa sembuh dari luka psikologis akibat ISIS.

Organisasi internasional tersebut mewawancarai anak-anak dan keluarga yang melarikan diri dari kota itu. Raqqa sendiri kini dalam keadaan hancur lebur setelah menjadi medan tempur antara kelompok teror dan pasukan Suriah yang didukung AS.

"Anak-anak Raqqa mungkin tampak normal di luar, tapi di dalam banyak dari mereka tersiksa karena apa yang mereka lihat," kata direktur Save the Children, Sonia Khush dikutip AFP, Minggu (27/8).

"Anak-anak Raqqa tidak pernah mau mengalami mimpi buruk dan ingatan melihat orang-orang tersayang yang tewas di depan mereka."

Melarikan diri bersama keluarganya tiga bulan lalu, Raashida (13) kini berada di sebuah kamp pengungsi di utara Raqqa.

"ISIS memenggal orang dan meninggalkan tubuhnya di tanah. Kami melihat itu dan kami tidak tahan," ujarnya.
"Saya ingin tidur tapi tidak bisa karena mengingat apa yang saya lihat. Dan saya tidak bisa tidur--saya akan terus terjaga karena takut."

Sejak ISIS menguasai Raqqa pada 2014 lalu, kota ini kerap disandingkan dengan kejahatan kelompok tersebut: pemenggalan secara publik, hukuman rajam dan propaganda jihadis di sekolah-sekolah.

Ayah Raashida, Aoun, mengatakan dirinya sudah mencoba menjauhkan anak-anaknya dari pemandangan semacam itu. Namun, mereka lama-lama mulai terbiasa melihat kejahatan tersebut.

"Tidak ada lagi yang bisa disebut 'anak-anak', kami semua tinggal di neraka," ujarnya.
Hingga 25 ribu orang, separuhnya anak-anak, kini masih terjebak di Raqqa sementara pasukan pemerintah terus menekan.

Save the Children memperingatkan bahwa serangan bom dari koalisi Suriah dan AS membuat keluarga dihadapkan pada buah simalakama: tinggal dan hadapi risiko terkena bom atau pergi dan hadapi risiko ditembak ISIS atau menginjak ranjau.

Yaacoub dan keluarganya ditembaki oleh penembak jitu alias sniper ISIS saat melarikand iri tiga bulan lalu.

Bocah berusia 12 tahun itu, dan kesembilan saudaranya, menceritakan bagaimana ISIS menerapkan hukuman seperti perajaman, pemotongan jari para perokok atau penjahitan mulut.
"Mereka memenuhi bundaran di jalan dengan kepala yang dipenggal. Kami melihat mereka melakukan itu dan memotongi tangan," kata Yaacoub.

Adiknya, Fuad, terluka dalam serangan udara.

Kelompok pemerhati mengatakan ratusan warga sipil telah tewas dalam serangan koalisi sejak aliansi Arab-Kurdi yang mereka dukung menembus Raqqa pada Juni lalu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah meminta pertempuran dihentikan agar warga sipil bisa mengungsi.
Save the Children menyediakan rute aman untuk anak-anak dan keluarga, tapi itu hanya awal dari proses panjang memastikan kesehatan mental mereka.

"Penting untuk menyediakan dukungan psikologis bagi anak-anak yang selamat agar bisa menangani kekerasan biadab dan kebrutalan itu," kata Khush.

"Satu generasi anak-anak berisiko menderita seumur hidup jika tidak kebutuhan mental mereka tidak ditangani."