AS Akui Yerusalem, Menlu Palestina Batal ke Jakarta

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 05/12/2017 19:55 WIB
AS Akui Yerusalem, Menlu Palestina Batal ke Jakarta Duta Besar RI untuk Kerajaan Yordania Hasyimiah dan Negara Palestina, Andy Rachmianto, usai menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, di kediaman Presiden Palestina di Amman, Yordania, Minggu (5/11). (Dok. KBRI Amman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar soal rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Palestina membuat Menteri Luar Negeri Palestina Riad N. Malki membatalkan rencana kunjungannya ke Jakarta, Selasa (5/12).

Menlu Palestina itu sedianya akan membuka seminar dan pameran foto “Memberdayakan Rakyatnya, Memperkuat Negaranya: Konsistensi Dukungan Indonesia terhadap Palestina dalam Bidang Kerja Sama Teknis” di Gedung Pancasila, Jakarta, Selasa (5/12).

“Tadi bu Menlu Retno Marsudi juga sudah bicara kan, Menlu Malki tidak jadi datang ke sini karena munculnya isu ini yang mengharuskan beliau tetap berada di Ramallah,” kata Duta Besar RI untuk Palestina dan Yordania, Andy Rachmianto, seusai acara tersebut.



Andy mengatakan sejumlah negara termasuk Indonesia terus menggaungkan keprihatinan mengenai wacana pemindahan kedubes AS ini. Menurutnya, pemindahan ini akan berdampak besar pada situasi dan stabilitas di Timur Tengah, terutama nasib perdamaian Israel-Palestina.

“Lagi pula cost-nya juga terlalu besar bagi AS kalau pemindahan kedubes ini benar-benar dilakukan. Apalagi saat ini, AS tengah menghadapi sejumlah masalah di dalam negerinya. Kami terus berharap AS melalui Presiden Trump masih bisa terus tunjukkan kepemimpinannya dalam menyelesaikan konflik ini,” ujar Andy.

Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina, Andy Rachmianto (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)Foto: CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha
Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina, Andy Rachmianto (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)


Andy menyatakan pemindahan Kedutaan AS itu sama dengan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Padahal, Yerusalem Timur diniatkan menjadi Ibu Kota Palestina jika merdeka nanti.

Selain itu, menurut Andy, AS tidak bisa menjadi mediator atau penengah dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina jika memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Sekali Presiden Donald Trump mengumumkan keputusannya, AS sudah tidak bisa berperan menjadi penengah konflik karena mereka sudah berpihak. Pemindahan kedubes ke suatu kota itu otomatis mengakui wilayah itu sebagai ibu kota suatu negara,” kata mantan Direktur Perlucutan Senjata Kementerian Luar Negeri tersebut.

Trump tengah dikejar tenggat untuk menandatangani penangguhan undang-undang relokasi kedutaannya ke Yerusalem untuk enam bulan ke depan. Juru bicara Gedung Putih menyatakan pemindahan kedutaan itu hanya masalah waktu. (nat)