Netanyahu Ajak Dunia Ikuti AS Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 07/12/2017 05:05 WIB
Netanyahu Ajak Dunia Ikuti AS Akui Yerusalem Ibu Kota Israel Benjamin Netanyahu memuji keputusan Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan menyerukan agar dunia mengikuti jejak Amerika Serikat. (Reuters/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memuji keputusan bersejarah yang diambil oleh Presiden Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan menyerukan agar dunia mengikuti jejak Amerika Serikat.

“Semua negara yang ingin perdamaian, silakan ikuti Amerika Serikat dalam mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besar mereka ke sini,” ujar Netanyahu, sebagaimana dikutip AFP, Rabu (6/12).
Netanyahu mengatakan, sudah saatnya dunia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang sudah menjadi pusat segala impian, harapan, dan doa rakyat Israel selama berpuluh tahun.

“Ini adalah hari bersejarah. Kami sangat bersyukur atas keputusan berani presiden [Trump] untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan bersiap membuka kedutaan besarnya di sini,” kata Netanyahu.


Pengakuan AS ini dianggap sebagai kemenangan tersendiri bagi Netanyahu karena Yerusalem sudah diperebutkan oleh Israel dan Palestina sejak lama. 
Israel akhirnya berhasil merebut Yerusalem saat perang Timur Tengah pada 1967 silam. Mereka kemudian mencaplok daerah tersebut, tapi tak diakui oleh masyarakat internasional. 

Untuk menegaskan penolakan tersebut, tak ada negara asing yang mendirikan kantor perwakilannya untuk Israel di Yerusalem.

Kongres AS sendiri sebenarnya sudah meloloskan undang-undang untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak 1995. 

[Gambas:Video CNN]

Namun, presiden AS sebelum Trump selalu menangguhkan hukum tersebut demi menghindari pergolakan politik di Timur Tengah.

Keputusan Trump ini pun dikecam oleh banyak pihak dari seluruh penjuru dunia, termasuk sekutu AS sendiri, seperti Perancis, Inggris, Turki, dan Jerman.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, ikut angkat suara. Menurutnya, status akhir Yerusalem hanya dapat tercapai setelah perundingan damai antara Israel dan Palestina mencapai mufakat.

“Saya selalu menentang segala upaya unilateral yang dapat melemahkan upaya perdamaian antara Israel dan Palestina. Saya akan melakukan apa pun untuk mendukung pemimpin Israel dan Palestina kembali ke jalur negosiasi,” katanya.

Keputusan ini juga tak lepas dari radar pengamat. Sejumlah pakar menganggap Trump bagai burung beo yang hanya mengikuti semua omongan Netanyahu sebagai sekutunya. (has/has)