China Peringati 80 Tahun Pembantaian Nanjing

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 14/12/2017 01:55 WIB
China Peringati 80 Tahun Pembantaian Nanjing China menyeruksan persahabatan dengan semua negara termasuk Jepang dalam Peringatan Pembantaian Nanjing ke-80, Rabu (13/12). (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- China menggelar peringatan 80 tahun peristiwa pembantaian Nanjing pada Rabu (13/12). Dalam acara tersebut, China menyerukan perdamaian dengan Jepang yang selama ini memiliki sejarah panjang dengan Negara Tirai Bambu itu.

Berpidato dalam pembukaan acara, perwakilan dari dewan penasihat parlemen, Yu Zhengsheng, mengatakan China dan Jepang merupakan negara tetangga yang memiliki hubungan historis sangat dalam dan panjang.

Yu menegaskan bahwa Beijing akan mempererat relasi dengan seluruh negara tetangga, termasuk Jepang atas dasar persahabatan, hubungan baik, dan ketulusan.


“China dan Jepang harus bertindak atas dasar kepentingan dasar rakyat kedua negara dan benar-benar memahami arah kerja sama serta persahabatan dengan menggunakan sejarah sebagai cerminan pelajaran untuk menghadapi masa depan,” kata Yu sebagaimana dikutip Reuters.

Presiden Xi Jinping turut hadir dalam peringatan itu, meski tak ikut berpidato. Dengan wajah muram, Xi terlihat mengenakan bunga putih pada pada kerah jasnya yang menandakan rasa berkabung.  Xi, yang ikut berdiri d antara penonton di depan mimbar, tidak berbicara sepatah katapun dalam gelaran tersebut.

Hubungan Tokyo dan Beijing terbilang kompleks karena selalu dibayangi sejarah kelam ketika Jepang menjajah China di masa Perang Sino-Jepang kedua. Insiden pembantaian Nanjing pun menjadi salah satu peristiwa yang tak jarang menghambat persahabatan kedua negara.

Peristiwa itu diawali ketika tentara Jepang menduduki Kota Nanjing, Ibu Kota China pada masa itu, sekitar 13 Desember 1937 hingga Januari 1938. Saat itu, tentara Jepang membunuh sebagian besar warga di provinsi bagian timur China itu hingga menewaskan sedikitnya 300 ribu jiwa.

Sementara itu, sebuah pengadilan aliansi pasca-perang memaparkan bahwa korban tewas dalam peristiwa itu hanya mencapai 142 ribu jiwa.

[Gambas:Video CNN]

Selama ini, China rutin memperingati warganya terkait kekejaman penjajahan Jepang melalui peristiwa itu. Namun, sejumlah politikus dan ilmuwan konservatif Jepang membantah bahwa pembantaian itu pernah terjadi.

Selain sejarah, hubungan kedua negara juga kerap diwarnai rivalitas sebagai besar di kawasan. Tak hanya itu, Jepang dan China juga memiliki sengketa teritorial terutama di Laut China Timur yang semakim memperumit relasi keduanya.

Sementara itu, menanggapi acara tersebut, Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, mengatakan pentingnya kedua negara melihat masa depan demi mempererat persahabatan.

“Para pemimpin Jepang dan China sepakat dalam pertemuan terdahulu untuk memperbaiki hubungan dan yang paling penting sama-sama menunjukkan sikap yang berorientasi pada masa depan,” kata Suga di Tokyo.

Peringatan pembantaian Nanjing pertama kali digelar China pada 2014 lalu. Tahun ini menjadi kali kedua Xi hadir dalam acara tersebut. (nat)