Korsel dan Korut Sepakat Redakan Ketegangan Militer

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 10/01/2018 19:41 WIB
Korsel dan Korut Sepakat Redakan Ketegangan Militer Korea Selatan dan Korea Utara sepakat untuk membuka kembali pertemuan antar pejabat militer. (REUTERS/Korea Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Selatan dan Korea Utara sepakat untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali dialog antar-militer. Hal tersebut tercapai seusai pertemuan langsung untuk pertama kalinya selama dua tahun terakhir di Desa Panmunjom, wilayah zona demilitarisasi (DMZ), pada Selasa (9/1).

Dalam pertemuan bersejarah itu, Seoul dan Pyongyang setuju meredakan ketegangan militer yang sempat memanas sepanjang 2017 lalu.

"Korea Utara dan Selatan memutuskan untuk bersama-sama mengupayakan rekonsiliasi dan menyatukan warga dengan menciptakan perdamaian dan meredakan ketegangan militer di Semenanjung Korea," bunyi pernyataan bersama tersebut sebagaimana dikutip CNN.


Meski begitu, kedua belah pihak belum membeberkan kapan rencana dialog militer tersebut akan digelar.

[Gambas:Video CNN]

Pada pertemuan, Seoul juga mengangkat upaya reuni keluarga yang terpisah akibat Perang Korea 1950. Perang lalu yang secara teknis belum berakhir lantaran terhenti berkat gencatan senjata, bukan kesepakatan damai.

Korut juga mengatakan akan mengirimkan atlet, pemandu sorak, kelompok kesenian, dan kelompok seni bela diri taekwondo untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korsel, 9-25 Februari mendatang.

Pertemuan dan berbagai kesepakatan  yang dihasilkan itu mewujudkan pernyataan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong-un dalam pidatonya di awal tahun baru lalu. Di mana Kim menyatakan niat ingin memperbaiki relasi dengan tetangganya di selatan tersebut.

Lima delegasi Korut terdiri atas  kepala negosiator, Ri Son Gwon, Wakil Kepala Komite Reunifikasi Perdamaian, Jon Jong Su, Wakil Menteri Olah Raga Won Kil U, dan dua anggota komite olimpiade Korut. Mereka tiba di perbatasan dengan iring-iringan mobil sekitar pukul 09.30 pagi waktu Seoul.

Kelimanya lalu berjalan kaki melintasi garis demarkasi militer Korsel  menuju Panmunjom.



Adapun delegasi Korsel diwakili oleh Menteri Unifikasi, Cho Myoung-gyon, dan wakilnya, Chun Hae-sung, bersama sejumlah pejabat lain.

Korut melalui kepala negosiator Ri sempat mengutarakan keberatas atas pemberitaan media Korsel yang menyebut bahwa isu denuklirisasi Semenanjung Korea ikut menjadi bahasan dalam pembicaraan mereka hari itu.

Hal itu dilontarkan Ri menyusul pernyataan Chun kepada wartawan yang menyebut bahwa denuklirisasi menjadi salah satu poin dan kebutuhan yang harus diselesaikan dalam pembicaraan militer kedua negara.

Ri juga mengungkapkan ketidakpuasannya yang sangat kuat karena Seoul mengatakan bahwa denuklirisasi akan menjadi bagian dari pembicaraan militer kedua negara. Dia bahkan sempat melontarkan ancaman kepada Amerika Serikat, musuh bebuyutan Korut, yang selama ini kerap dikaitkan dengan konflik kedua negara.

"Berbicara mengenai isu nuklir, semua senajata strategis, termasuk bom atom dan hidrogen, rudal antar-benua (ICBM), roket, sepenuhnya menargetkan AS, bukan masyarakat Korea, apalagi masyarakat China, dan Rusia," kata Ri.

Ri juga mengkritik Chun karena menyebarkan rencana mereka membuka kembali jalur komunikasi atau hotline militer. Dia menyebut jalur komunikasi itu telah disepakati keduanya pekan lalu, bukan bagian dari hasil perundingan kemarin.

lebih lanjut, pembicaraan kemarin merupakan tindak lanjut inisiatif Korsel yang mengajak Korut berdialog setelah Kim Jong-un membuka kembali jalur komunikasi negaranya dengan Korsel di perbatasan, Rabu pekan lalu.

[Gambas:Video CNN]

Jalur komunikasi itu selama ini kerap di buka tutup mengikuti dinamika hubungan kedua negara yang selama ini diselimuti pengembangan rudal dan nuklir Korut.

Sejumlah negara seperti China, Rusia, Jepang, hingga Indonesia menyambut baik dialog langsung antara kedua negara yang telah lama bertikai itu.

Seorang pengamat hubungan internasional dari Universitas Yonsei, Seoul, John Delury, mengatakan perundingan militer dan penyatuan kembali anggota keluarga bukan yang pertama kali diajukan untuk meredakan hubungan Korut dan Korsel.

Delury mengatakan tahun lalu Seoul juga mengutarakan niat yang sama dengan Korut, namun tidak pernah ada kemajuan, termasuk perundingan denuklirisasi Korut melalui Six Party Talks yang terhenti sejak pertama dibentuk pada 2003.

"Korsel telah lama mengupayakan hal ini. Seoul sudah mengusulkan hal-hal tersebut seperti pembicaraan militer dan penyatuan keluarga. Secara teknis, Korut tidak pernah benar-benar menolak itu atau mengatakan tidak atas tawaran itu," ucapnya.

(nat)