Rohingya Demo Tolak Pemulangan Tanpa Jaminan Keamanan

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 22/01/2018 08:59 WIB
Rohingya Demo Tolak Pemulangan Tanpa Jaminan Keamanan Sejumlah pengungsi Rohingya berdemonstrasi di kamp penampungan di Bangladesh untuk menolak pemulangan mereka ke Myanmar jika tidak ada jaminan keamanan. (Reuters/Mohammad Ponir Hossain)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pengungsi Rohingya berdemonstrasi di kamp penampungan di Bangladesh untuk menolak pemulangan mereka ke Myanmar jika tidak ada jaminan keamanan.

Sebagaimana dilansir Reuters, demonstrasi itu digelar sepanjang akhir pekan, ketika Utusan Khusus Perserikatan Bangsa, Yangee Lee, mengunjungi kamp-kamp di sepanjang perbatasan Bangladesh dan Myanmar.

Sejumlah pengungsi terlihat memegang karton berisi pesan protes atas rencana pemulangan mereka ke Myanmar yang akan dimulai pada Selasa (23/1).
Menjelang hari pemulangan, tentara Bangladesh mulai meminta setiap ketua tenda penampungan untuk mendaftar nama orang yang sudah siap dikirim ke kamp sementara sebelum repatriasi.


Namun, para ketua tenda menolak memberikan daftar itu sebelum pemerintah Myanmar menjamin keamanan Rohingya dan berjanji memberikan kewarganegaraan bagi yang ingin kembali.

Tak hanya itu, para pengungsi Rohingya juga meminta agar rumah, masjid, serta sekolah-sekolah yang hancur akibat operasi militer di Rakhine selama ini dapat dibangun kembali.
Mendengar penolakan itu, sejumlah tentara Bangladesh malah mengancam akan menyita kartu bantuan dari Program Makanan Dunia PBB yang selama ini menjadi pegangan mereka agar mendapat makanan.

"Saat kami mengatakan bahwa kami tidak dapat memberikan daftar itu karena orang-orang belum siap, mereka malah meminta kami memberikan kartu bantuan," ucap Musa, salah satu pemimpin di kamp Gungdum.

Namun, juru bicara tentara Bangladesh, Rashedul Hasan, mengatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui ada personel yang meminta kartu bantuan makanan tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Menanggapi perkembangan terakhir ini, badan pengungsi PBB (UNHCR) kembali menegaskan bahwa proses pemulangan Rohingya harus dilakukan secara sukarela.

"UNHCR bukan bagian dari diskusi ini, tapi sudah menawarkan bantuan untuk terlibat dalam prosesnya agar suara pengungsi didengarkan. Proses pemulangan harus ditentukan oleh para pengungsi sendiri," ujar seorang pejabat senior UNHCR, Caroline Gluck.

Keputusan repatriasi ini sendiri sudah disepakati oleh Bangladesh dan Myanmar pada pekan lalu. Dalam perjanjian itu, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan proses pemulangan mulai Selasa hingga dua tahun ke depan.

Isu ini kembali mencuat ketika lebih dari 600 ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan militer di Rakhine yang dilaporkan sudah menewaskan 100 ribu orang sejak Agustus tahun lalu. (has/has)