Pengadilan Hong Kong Tolak Banding Eks Bankir Pembunuh 2 WNI

Natalia Santi, CNN Indonesia | Jumat, 09/02/2018 10:57 WIB
Pengadilan Hong Kong menolak banding Rurik Jutting, mantan bankir yang divonis penjara seumur hidup karena membunuh dua warga Indonesia (WNI) pada 2014. Pengadilan Hong Kong menolak banding Rurik Jutting, mantan bankir yang divonis penjara seumur hidup karena membunuh dua warga Indonesia (WNI) pada 2014. (AFP Photo/Philippe LOPEZ)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengadilan Hong Kong menolak banding Rurik Jutting, mantan bankir yang divonis penjara seumur hidup karena membunuh dua warga Indonesia (WNI) pada 2014.

Jutting mengajukan permohonan banding pada Desember lalu dengan alasan dirinya tidak mendapatkan persidangan yang adil. Namun Hakim Pengadilan Hong Kong malah mengukuhkan dua vonis hukuman penjara seumur hidup atas dakwaan menyiksa dan membunuh dua WNI, Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih.

"Tak ada dasar apapun yang dapat diajukan dasar untuk mengajukan banding," kata Pengadilan Hong Kong dalam keputusannya, Jumat (9/2).


Jutting dinyatakan bersalah telah menyiksa dan membunuh kedua WNI di apartemen mewahnya di Distrik Wan Chai, Hong Kong pada 2016.

Kasus tersebut merupakan salah satu sidang yang paling terkemuka di Hong Kong. Seusai juri secara bulat menyatakan Jutting bersalah, Hakim Michael Stuart-Moore menggambarkan Jutting sebagai 'predator seksual'.

"Dia menggambarkan dirinya sebagai penjahat dan monster, tidak ada deskripsi yang pas untuk menggambarkan kengerian yang dilakukan kepada kedua korban," kata Stuart-Moore.

Jutting, 32 tahun, mantan pegawai Bank of America, membantah telah membunuh Ningsih dan Mujiasih dengan alasan di bawah pengaruh alkohol, obat-obatan terlarang dan menderita kelainan seksual.

Seperti dilansir CNN, pembunuhan terjadi pada 27 Oktober 2014, Jutting membunuh Ningsih, 23 tahun, setelah mengurungnya di dalam apartemennya selama tiga hari. Dia menyiksa, melecehkan dan merekam aksinyadi iPhone sebelum menggorok korban di kamar mandi.

Tiga hari kemudian pada 1 November, dengan jenazah Ningsih yang masih tersimpan dalam koper di balkonnya, Jutting membunuh Mujiasih, 26 tahun, karena berteriak minta tolong, beberapa menit setelah masuk ke aparteennya.

Selama enam hari berikutnya, Jutting membuat banyak video di ponselnya, menggambarkan rencana penyiksaan berikutnya dan ketakutan jika tertangkap.

Dalam keputusan awal di Pengadilan Hong Kong, Stuart-Moore menyatakan Jutting tidak menunjukkan penyesalan sama sekali dan menyerukan agar tak seorang pun yang tertipu oleh pesona palsunya. (nat)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK