Tanpa Syarat, Presiden Afghanistan Ajak Taliban Berunding

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Rabu, 28/02/2018 20:12 WIB
Tanpa Syarat, Presiden Afghanistan Ajak Taliban Berunding Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengajak Taliban untuk merundingkan perdamaian. (REUTERS/Mohammad Ismail)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menawarkan untuk mengakui Taliban sebagai kelompok politik sah, dalam tawaran proses politik yang dia sebut bisa berujung pada perundingan untuk mengakhiri perang 16 tahun di negara tersebut.

Tawaran itu disampaikan pada Rabu (28/2), di awal konferensi internasional pembuatan dasar perundingan damai di Kabul. Sinyal ini menjadi yang terbaru di antara serangkaian tanda dari pemerintah sokongan Barat, sementara Taliban di sisi lain pun menyiratkan kemauan lebih besar untuk mempertimbangkan dialog.

Ghani mengajukan gencatan senjata dan pelepasan tahanan sebagai bagian dari sejumlah opsi, termasuk pemilihan umum baru yang melibatkan kelompok bersenjata dan peninjauan ulang konstitusional sebagai bagian perjanjian dengan Taliban.


"Kami memberi tawaran ini tanpa syarat untuk mengarah ke kesepakatan damai," kata Ghani dalam pembukaan konferensi Kabul Process yang dihadiri pejabat dari 25 negara itu. Dalam konferensi, Indonesia turut hadir dan diwakili oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Taliban diharapkan memberikan masukan pada proses perdamaian, yang bertujuan untuk membawa Taliban, sebagai organisasi, ke pembicaraan damai," ujarnya. Dia juga mengatakan dirinya tidak akan "berprasangka" pada kelompok manapun yang ingin berdamai.
Komentar itu mewakili perubahan signifikan untuk Ghani, yang di masa lalu terus menyebut Taliban "teroris" dan "pemberontak" meski menawarkan perundingan pada sebagian gerakan yang menerima perdamaian.

Taliban, yang berperang untuk mengembalikan kepemimpinan Islamis setelah digulingkan Amerika Serikat pada 2001, telah menawarkan perundingan dengan AS meski menolak bicara langsung dengan Kabul. Belum jelas apakah mereka bakal bersiap mengubah sikap di tengah tekanan internasional yang berkembang saat ini.
Taliban kerap melakukan serangan bom di Afghanistan.Taliban kerap melakukan serangan bom di Afghanistan. (REUTERS/Omar Sobhani)
Walau demikian, Ghani, yang baru-baru ini membantu meluncurkan tahap terbaru pembangunan pipa gas dari Turkmenistan, mengatakan momentum perdamaian berkembang dari negara-negara tetangga yang semakin membutuhkan kestabilan Afghanistan.

"Taliban menunjukkan kesadaran pergeseran kontekstual ini dan tampak terlibat dalam debat soal implikasi tindak kekerasan pada masa depan mereka," ujarnya.
Ghani mengatakan kerangka negosiasi perdamaian mesti dibuat dengan pengakuan Taliban sebagai kelompok sah, dengan kantor politik sendiri untuk menangani negosiasi di Kabul atau lokasi lain yang disepakati.

Para petinggi Taliban telah mengakui bahwa mereka dihadapkan pada tekanan negara-negara sahabat untuk menerima perundingan. Mereka juga mengatakan tawaran baru-baru ini pada Amerika Serikat mencerminkan kekhawatiran bahwa mereka bisa dipandang menghalangi perdamaian.

Ghani mengatakan proses akan disertai dukungan diplomatik terkoordinasi, termasuk upaya global untuk membujuk Pakistan, negara tetangga yang kerap dituding Kabul mendukung Taliban, demi mencapai kestabilan Afghanistan.

Sebagai timbal balik tawaran ini, kata Ghani, Taliban mesti mengakui pemerintah Aghanistan dan menghargai peraturan hukum.

(aal)