Penyerang Berpisau di Paris Masuk Daftar Ekstrimis Sejak 2016

Reuters & AFP, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 05:57 WIB
Penyerang Berpisau di Paris Masuk Daftar Ekstrimis Sejak 2016 Petugas berjaga di sekitar lokasi penyerangan dengan menggunakan pisau, di Paris, Prancis, belum lama ini. (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Prancis mengungkapkan bahwa pelaku penyerangan dengan menggunakan pisau di Paris, Sabtu (13/5), Khamat Azimov (20), merupakan warga Prancis kelahiran Chechnya. Ia juga diketahui sudah masuk daftar pihak yang diawasi terkait ekstrimisme sejak 2016.

Hal itu diketahui setelah penyelidik menginterogasi orang tua pelaku, yang kini tinggal di Paris, dan seorang temannya di Strasbourg, Prancis. Azimov diketahui besar di sebuah komunitas warga Chechnya di Strasbourg. Ia menjadi warga negara Perancis pada tahun 2010 usai proses naturalisasi ibunya.

Sepasukan aparat kepolisian bersenjata lengkap, Minggu (14/5), seperti diberitakan AFP, menggeledah sebuah rumah di Strasbourg yang diketahui dihuni oleh kawan dari Azimov. Petugas kemudian menggiring seorang pria yang wajahnya tertutup tudung dengan lengan terborgol.

Pria itu terlihat memakai kaus bertuliskan "Grozny", yang merupakan ibu kota Chechnya, di bagian depannya, dan bergambar senapan Kalashnikov di bagian belakangnya. Sebuah sumber yang dekat dengan penyelidikan menyebut bahwa pria itu merupakan orang yang dekat dengan Azimov.

Sumber juga menyebut bahwa Azimov pernah diinterogasi penyelidik anti-teror, 2017, karena mengenal seseorang yang punya kontak dengan Suriah.

Azimov masuk daftar terduga radikal yang disebut sebagai 'S File' dan daftar Dokumen untuk Pencegahan Radikalisasi Teroris (FSPRT) yang memuat orang-orang yang dituduh sebagai ancaman teroris, sejak 2016.

"Karena dia tahu seorang pria yang berhubungan dengan seseorang yang telah pergi ke Suriah," sebut sumber tersebut, kepada AFP. Namun demikian, Azimov tidak memiliki catatan kriminal.


Siswa Normal

Mantan teman sekelasnya di SMA di Strasbourg menggambarkan Azimov sebagai siswa yang religius dan "sangat berhati-hati" yang menyukai gim video dan olahraga.
Kota tersebut diketahui merupakan tempat tinggal bagi komunitas pengungsi dari Chechnya yang melarikan diri dari Rusia akibat perang separatis.

"Khamzat cukup tenang, dia menjaga dirinya sendiri, dia tidak punya masalah. Dia melakukan [puasa] Ramadan, dia melirik para gadis," ucap seorang mantan teman sekolahnya.

Ia menyebut Azimov memang berhubungan dengan Suriah dan memiliki keinginan untuk pergi ke negara yang tengah dilanda perang saudara itu. "Tapi setelah lulus dia meninggalkan semua itu, dia ingin mencari pekerjaan," tukasnya.

Seorang mantan siswi SMA lainnya menyebut bahwa Azimov adalah "siswa yang normal, tidak luar biasa, tapi tidak buruk juga." Azimov juga disebutnya tidak pernah membicarakan soal Chechnya.

"Kami tahu dia muslim, tapi dia tidak pernah menunjukkannya," ucap dia.

Keluarga Tertutup

Seorang manajer apartemen tempat Azimov tinggal, di Arrondissement atau Distrik ke-18, sebelah utara Paris, mengatakan bahwa keluarganya tidak tampak terlalu religius dan menyebut mereka "sangat berhai-hati".

"Tidak ada yang mencolok dalam hal agama," ucapnya, sembari menggambarkan Khamzat Azimov sebagai pelajar muda yang menyukai olahraga.

Salah satu tetangganya menyebut bahwa keluarga yang sudah tinggal di apartemen sekitar satu tahun itu tersebut tidak pernah memiliki masalah. Ayah pelaku diketahui bekerja dalam bidang konstruksi, sementara ibunya bekerja untuk badan tunawisma.

"Mereka tidak pernah menerima tamu," imbuhnya.

Tentang Azimov, ia menggambarkannya sebagai "bukan penjahat, tapi seseorang yang pendiam."

Sebelumnya, Azimov diberitakan menyerang lima pejalan kaki di Paris, Prancis, Sabtu (13/5) malam, dan menewaskan salah satu di antaranya. Seorang saksi menyebut pelaku menggunakan pisau dengan panjang sekitar 10 cm.

"Dia mendekati [pejalan kaki] dengan tenang, kontras dengan kepanikan di sekitarnya," ungkap Romain (34), yang menyaksikan kejadian itu dari Starbucks di Avenue de l'Opera, Paris, bersama isteri dan anaknya.

"Dia berjanggut, tak terlalu panjang, berpakaian normal. Dia [pelaku] tidak masuk stereotip seorang jihadis," tandasnya. (arh/arh)