Jepang Disebut Akan Permudah Imigrasi Demi Tenaga Kerja Asing

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 15/06/2018 20:07 WIB
Jepang Disebut Akan Permudah Imigrasi Demi Tenaga Kerja Asing Jepang disebutkan saat ini tengah mengalami kekurangan angkatan kerja. (REUTERS/Toru Hanai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jepang berencana memperingan larangan imigrasi demi bisa mendatangkan lebih banyak tenaga kerja asing ke negara tersebut. Hal itu akan dilakoni karena Negara Matahari Terbit itu disebutkan sedang mengalami krisis tenaga kerja.

"Kekurangan tenaga kerja telah menjadi lebih akut," ujar Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, Jumat (15/6).

"Ini penting untuk menciptakan sebuah mekanisme untuk secara luas menerima orang asing yang siap bekerja dengan kepakaran dan keterampilan tertentu," sambungnya.



Suga pun menegaskan pemerintah Jepang berencana untuk sesegera mungkin merevisi undang-undang imigrasi.

Ia menerangkan, pemerintah berencana menawarkan status visa baru yang memungkinkan pekerja dari luar negeri untuk mengisi sektor spesifik dan keahilan mereka.

Namun, terkait rencana tersebut, pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Shinzo Abe itu menekankan kebijakan tersebut tak akan membuat Jepang membuka imigrasi secara besar-besaran.

"Masyarakat Jepang tidak akan bergantung pada imigran asing," kata seorang pejabat di kantor kabinet kepada AFP sebelum Suga mengumumkan rencana kebijakan itu.

Adapun kekurangan tenaga kerja itu di antaranya terjadi pada sektor-sektor seperti pertanian, keperawatan, konstruksi, hotel, dan pembuatan kapal.

Namun, kesulitan lain untuk menerima tenaga kerja asing itu adalah kebutuhan komunikasi dalam bahasa Jepang baik tulis maupun lisan.


Merujuk pada pemberitaan media lokal, Jepang setidaknya membutuh lebih dari 500.000 pekerja itu hingga 2025 mendatang.

Lewat revisi kebijakan baru itu, para pekerja bisa mencari nafkah di negara itu hingga lima tahun. Dan, hanya pekerja terampil di sektor tertentu yang diizinkan mendapat visa untuk anggota keluarga mereka.

Salah satu pebisnis terkemuka di Jepang, Hiroaki Nakanishi, mengakui negaranya tengah menghadapi meningkatnya populasi yang menua. Di sisi lain, tingkat kelahiran di negara tersebut menurun.

Untuk mengatasi krisis tenaga kerja itu, pemerintah Abe telah mencoba untuk mempromosikan lebih banyak perempuan dan orang tua ke dalam angkatan kerja. Namun, para ekonom di negara tersebut menilai langkah-langkah itu mungkin masih tidak cukup. (kid/kid)