Singapura: Serangan Siber Terparah Disponsori Negara Lain

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 07/08/2018 04:10 WIB
Singapura: Serangan Siber Terparah Disponsori Negara Lain Serangan peretas di Singapura menyebabkan data pribadi 1,5 juta orang termasuk milik perdana menteri dicuri. (Reuters/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan siber terparah dalam sejarah Singapura yang menyebabkan pencurian informasi pribadi 1,5 juta warga termasuk perdana menteri, memiliki ciri-ciri kelompok yang didukung oleh pemerintah satu negara.

Menteri Komunikasi Singapura S. Iswaran mengatakan pemerintah negara itu tidak akan mengumumkan identitas penyerang karena alasan keamanan, tetapi menemukan bukti bahwa serangan ini adalah hasil kerja kelompok yang disebutnya sebagai "Advanced Persistent Threat" yang memiliki hubungan dengan pemerintah negara,.

"Kelompok ini merujuk pada penyerang siber canggih, biasanya memiliki hubungan dengan pemerintah satu negara, melakukan kampanye serangan siber yang direncanakan dengan rinci untuk mencuri informasi atau mengganggu operasi," ujar Iswaran di depan parlemen Singapura, Senin (6/8).
Iswaran mengatakan badan-badan pemerintah sangat yakin dengan identitas para pelaku itu namun tidak memiliki cukup bukti untuk mengambil langkah hukum.


Menteri Kesehatan Gan Kim Yong menambahkan bawa para penyerang berupaya menghilangkan jejak sehingga menyulitkan penyelidikan dan bahwa mereka bisa melakukan serangan kembali.

"Meski ada langkah-langkah keamanan dari kami, para penyerang bersikap sabar, pantang menyerah dan banyak akal," ujar Gan.

"Dengan alat peretas canggih, mereka akhirnya berhasil...Kami menyelidiki kasus ini dengan serius karena tidak ada jaminan mereka tidak akan melakukan serangan kembali dengan peralatan yang lebih canggih."

Setelah serangan itu terjadi, pemerintah memutuskan untuk mencabut hubungan komputer ke internet di pusat-pusat keseshatan dan membentuk panel beranggotakan empat orang untuk menyelidiki insiden ini. Panel ini akan menyerahkan laporan mereka pada akhir Desember mendatang.

PricewaterhouseCoopers (PWC) dan Badan Keamanan Siber Singapura bekerja sama dengan kementerian kesehatan untuk mengidentifikasi kelemaha sistem mereka dan menutup setiap lubang untuk mencegah serangan berikut.
Serangan siber besar-besaran di Singapura jarang terjadi karena negara ini berinvestasi cukup banyak untuk keamanan siber dalam satu dekade belakangan.

Serangan ini terjadi ketika negara yang sangat terkoneksi dalam jaringan menetapkan keamanan siber sebagai prioritas di dalam negeri dan juga di ASEAN. (yns)