PM Inggris Kecam Komentar Eks-Menlu Boris Johnson Soal Burka

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 08/08/2018 20:40 WIB
PM Inggris Kecam Komentar Eks-Menlu Boris Johnson Soal Burka Mantan Menlu Inggris, Boris Johnson. (REUTERS/Stefan Wermuth)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Inggris Theresa May mengecam pernyataan mantan menteri luar negerinya, Boris Johnson, yang menganggap perempuan Muslim dengan burka atau penutup wajah seperti "kotak surat" hingga "pencuri bank".

Pernyataan itu dimuat Johnson dalam kolom mingguannya yang diterbitkan oleh surat kabar Daily Telegraph. Padahal, dalam kolom tersebut, Johnson mengkritik keputusan Denmark yang baru-baru ini menerapkan larangan penggunaan burqa dan cadar lainnya.

"Ini sangat jelas bahwa bahasa yang digunakan Boris Johnson untuk menggambarkan penampilan seseorang telah menyebabkan orang tersinggung," kata May.


"Kata-kata itu bukan lah bahasa yang akan saya gunakan dan saya pikir dia telah keliru untuk menggunakan kata-kata tersebut."

Kritikan May terhadap Johnson dianggap bentuk persaingan politik di dalam tubuh partai berkuasa, Partai Konservatif. Sebab, Johnson, dianggap sebagai rival yang bisa mengancam posisi May saat ini.



Johnson menyatakan mengundurkan diri dari pemerintahan May pada Juli lalu karena berbeda pendapat terkait kebijakan Inggris setelah resmi keluar dari Uni Eropa.

Sementara itu, dikutip CNN, Sayeeda Warsi, mantan menlu Inggris di bawah pemerintahan PM David Cameron, menganggap perempuan Muslim semestinya "tidak boleh menjadi sepakbola politik hanya untuk meningkatkan popularitas di antara anggota partai Tory (Partai Konservatif)."

Warsi selama ini telah menjadi pengkritik utama sentimen islamofobia yang muncul di dalam tubuh Partai Konservatif pimpinan May tersebut.

Dia telah berulang kali menyerukan penyelidikan penuh terkait Islamofobia di antara para anggota partai itu.

Partai Konservatif juga dikritik komunitas Muslim Inggris, termasuk imam terkemuka asal London, Mohammed Mahmoud. Mahmoud dikenal setelah dia dianggap sebagai pahlawan karena berhasil menghentikan kekerasan yang muncul pasca-serangan Masjid Finsbury Park.

"Islamofobia tak lagi membara di bawah masyarakat pinggiran. Namun, terlepas dari meningkatnya skala dan keparahan Islamofobia dan anti-Muslim, respons pemerintah terkait ini lambat dan bahkan buruk dengan menyangkalnya," tulis Mahmoud dalam British press. (nat)