Jokowi Titipkan WNI dan Perjuangan Sawit ke Anwar Ibrahim

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Kamis, 30/08/2018 17:55 WIB
Jokowi Titipkan WNI dan Perjuangan Sawit ke Anwar Ibrahim Presiden Joko Widodo membahas sejumlah hal saat bertemu dengan Presiden PKR Malaysia, Anwar Ibrahim, salah satunya keberadaan WNI di Negeri Jiran. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo membahas sejumlah hal saat bertemu dengan Presiden Partai Keadilan Rakyat Malaysia, Anwar Ibrahim, di Istana Bogor pagi tadi, salah satunya keberadaan warga negara Indonesia di Negeri Jiran.

"Presiden menyampaikan titip WNI di sana. Jadi minta dukungan juga dari Pak Anwar Ibrahim, titip WNI di sana," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kamis (30/8).

Retno menuturkan dalam pertemuan yang berlangsung kurang dari satu jam ini, Presiden Jokowi juga mengingatkan perjuangan menghentikan kebijakan diskriminatif Uni Eropa terkait pembatasan impor minyak sawit.
Hal ini juga sempat dibahas Jokowi ketika menerima kunjungan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad pada Juni lalu.


"Presiden juga mengatakan pentingnya kita terus melanjutkan kerja sama dalam memperjuangkan kelapa sawit," kata Retno.

Kehadiran Anwar, kata Retno, merupakan hal wajar karena sedari dulu mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia ini memang sudah berulang kali berkunjung ke Indonesia.
Setelah itu, 5 Agustus lalu Anwar juga memenangkan kursi kepresidenan PKR. Ia menggantikan istrinya, Wan Azizah Wan Ismail yang kini sudah menjadi wakil perdana menteri, sebagai presiden partai.

"Beliau berdua pikiran dalam banyak hal. Pak Anwar ibrahim menyampaikan salam dari Tun (Mahathir Mohammad) karena dua hari sebelum bertemu Presiden bertemu dengan Tun," tuturnya.

Anwar menyatakan Mahathir sangat terkesan atas penyambutan dan pertemuan dengan Jokowi dua bulan lalu dan berkomitmen memperkuat hubungan dengan Indonesia.

"Bahkan Pak Anwar Ibrahim mengatakan ini adalah waktu yang sangat tepat bagi Indonesia dan Malaysia meningkatkan hubungan," ucap Retno.
Anwar sendiri disebut-sebut sebagai "perdana menteri dalam penantian" bagi Malaysia. Dalam kampanye sebelum pemilu, koalisi yang menaungi partai Mahathir dan PKR sepakat bahwa jika politikus berusia 92 tahun itu menang, ia akan menyerahkan jabatannya kepada Anwar kelak. (has)