Terjerat Isu Pelecehan di AS, Bos e-Commerce China Dibebaskan

Eka Santhika, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 07:30 WIB
Terjerat Isu Pelecehan di AS, Bos e-Commerce China Dibebaskan Ilustrasi (CNN Indonesia/Rebeca Joy Limardjo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Richard Liu, miliuner asal China yang menjadi bos dari perusahaan e-commerce raksasa JD.com dibebaskan pada Sabtu (1/9) pukul 16.00 waktu setempat setelah sempat ditangkap oleh kepolisian di Minneapolis, Amerika Serikat, seperti diberitakan CNN.

"Individu tersebut ditangkap Jumat malam dan dibebaska Sabtu sore. Dia dibebaskan sambil menunggu pengaduan resmi," jelas juru bicara Kepolisian Minneapolis John Elder, Minggu (2/9), seperti dikutip AFP. Menurutnya penangkapan terhadap Liu merupakah hasil dari investigasi aktif kepolisian tanpa ada pengaduan resmi yang diajukan. Ketika ditanya lebih lanjut, ia menolak memberi rincian.
Meski demikian, pihak kepolisian menyebut bahwa penyelidikan kasus ini masih aktif. Di Minnesota, kategori kejahatan pelecehan seksual mencakup pengertian yang sangat luas.

Penangkapan ini dilakukan terkait tuduhan pelecehan seksual. Namun, JD.com mengungkap bahwa tuduhan yang dilayangkan ke Liu salah. Demikian ditulis perusahaan e-commerce raksasa itu dalam pernyataan yang diunggah lewat media sosial di China, Weibo. 


Pernyataan JD bertolak belakang degan kepolisian AS. Mereka mengungkap bahwa Liu dibebaskan karena polisi tidak menemukan bukti pelecehan dan membebaskan Liu untuk melanjutkan perjalanan bisnisnya.

JD sendiri adalah raksasa e-commerce kedua terbesar di China setelah Alibaba. Bloomberg memperkirakan bahwa kekayaan pria ini mencapai US$7,3 miliar (sekitar Rp107,5 triliun). Jumlah kekayaan ini hanya seperlima dari kekayaan Jack Ma yang menjadi bos Alibaba yang memiliki kekayaan US$ 38,2 miliar (sekitar Rp562,7 triliun).

Liu membangun JD 20 tahun lalu. Perusahaan ini menjual berbagai hal mulau dari peralatan elektronik hingga bahan makanan. JD juga membentuk layanan logistiknya sendiri untuk mempercepat pengiriman.

JD juga memiliki pusat penelitian di Silicon Valley yang fokus pada pengembangan machine learning dan kecerdasan buatan (AI).

Google baru-baru ini berinvestasi US$550 juta (Rp8,1 triliun) di perusahaan yang bermarkas di Beijing itu. Keduanya berencana untuk menjalin kerjasama untuk melebarkan e-commerce di Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan Eropa.

Hal ini dilakukan untuk menyaingi ekspansi Amazon dan Alibaba. JD berambisi untuk mengambil alih pasar Barat. Kepada The Financial Times, Liu menyebut akan menyaingi Amazon di Eropa pada 2019.