Pengebom Bunuh Diri Serang Kantor Perusahaan Minyak Libya

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 11/09/2018 10:39 WIB
Pengebom Bunuh Diri Serang Kantor Perusahaan Minyak Libya Pria bertopeng menyerbu kantor pusat perusahaan minyak Libya dan dua jenazah pelaku bom bunuh diri temukan di dalam gedung. (Reuters/Hani Amara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pelaku bom bunuh diri yang diduga anggota ISIS meledakkan diri di kantor pusat Perusahaan Minyak Nasional Libya (NOC). Setidaknya, dua orang tewas dalam serangan tersebut.

"Dua pegawai NOC tewas dalam serangan itu. Sementara, 10 lainnya luka-luka," kata perusahaan itu lewat pernyataan tertulis.

PBB dan Pemerintah Nasional Libya mengecam serangan yang mereka sebut sebagai 'aksi teroris'.


NOC mengatakan serangan itu dimulai dengan sejumlah ledakan di dalam gedung dan tembak menembak. Kemudian, beberapa pegawai sempat disandera sebelum pasukan keamanan pemerintah turun tangan dan membebaskan mereka.


Direktur Utama NOC Mustafa Sanallah, salah satu yang dievakuasi dari gedung berlantai lima itu, memuji reaksi cepat dari petugas kesehatan darurat dan tim keamanan yang membantu mengakhiri serangan ini.

Ahmed Ben Salem, Juru Bicara Pasukan Perlawanan yang merupakan milisi yang kini bertugas sebagai polisi di Tripoli, mengatakan jenazah dua pengebom bunuh diri ditemukan di dalam gedung.

Kepala Keamanan Tripoli Salah al-Semoui menuduh ISIS bertanggung jawab atas serangan itu, namun kelompok tersebut belum mengklaim aksi ini.


Seorang pegawai perusahaan itu mengatakan sejumlah orang bertopeng terlibat tembak menembak dengan petugas keamanan dan menyerang kantor pusat yang terletak di Tripoli pada Senin (10/9).

"Saya dan rekan kerja lain meloncat keluar lewat jendela, dan kemudian kami mendengar ledakan," kata pegawai yang tidak mau disebutkan namanya itu kepada AFP.

Foto-foto jenazah pelaku bom bunuh diri itu diunggah di laman Facebook Pasukan Keamanan Tripoli.

Misi Bantuan PBB di Libya (UNSMIL) mengecam serangan pengecut terori dan satu pernyataan tertulisnya menyebut serangan itu sebagai serangan terhadap warga Libya di manapun.

UNSMIL meminta warga Libya "untuk berhenti dari sisi sia-sia konflik dan bersatu dalam kemitraan dengan komunitas internasional untuk menghancurkan akar terorisme di seluruh wilayah negara itu".

Pengebom Bunuh Diri Serang Kantor Perusahaan Minyak LibyaPihak berwenang Libya menuduh ISIS bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di kantor perusahaan minyak nasional negara itu. (Reuters/Ismail Zitouny)

Badan ini merujuk pada bentrokan kelompok bersenjata yang terjadi antara 27 Agustus dan 4 September di Tripoli yang menewaskan setidaknya 63 orang sebelum akhirnya tercapai gencatan senjata yang didukung PBB.

Direktur NOC Sanallah mengatakan serangan itu berfungsi untuk memperlihatkan situasi keamanan yang rentan di negara dan harus ada langkah-langkah tambahan agar NOC bisa melawan pihak yang berupaya menghentikan perbaikan Libya.

Pemerintah GNA yang didukung PBB juga menuduh teroris bertanggung jawab atas serangan ini.

Sasaran serangan ke kantor NOC ini terjadi empat bulan setelah serangan bunuh diri terjadi di kantor pusat komisi pemilu Libya. Sebanyak 14 orang tewas dalam serangan yang diklaim oleh ISIS tersebut.

Perebutan Minyak

Kelompok jihadis juga menyerbu Sirte, kota asal mendiang Moamar Kadhafi, yang terletak 600 kilometer dari Tripoli pada 2015.

Mereka diusir oleh pasukan pemerintah dan aliansi sekutu pada Desember 2016 namun mereka terus melakukan berbagai serangan.

Sektor minyak Libya berulang kali diganggu oleh aksi kekerasan karena pemberontak dukungan NATO yang membunuh Kadhafi, dua pemerintahan sipil yang saling klaim berkuasa di Libya dan sejumlah kelompok bersenjata terus berupaya mengendalikan sumber daya alam negara itu.

NOC terpaksa menghentikan ekspor minyak dari empat terminal penting di Libya timur setelah kelompok bersenjata yang mengklaim sebagai Angkatan Bersenjata Nasional Libya berhasil merebut kendali di wilayah itu dari kelompok milisi saingannya Juni lalu.


Perusahaan ini menyatakan force majeure dalam pengapalan minyak di pelabuhan-pelabuhan, satu langkah legal yang membebaskan satu pihak dari kewajiban kontrak akibat keadaan di luar kekuasaan mereka.

Langkah ini menambah kekhawatiran akan pasok minyak dunia dan saat itu harga minyak mentah global pun naik.

Tetapi pada Juli, NOC mengumumkan produksi akan kembali berjalan di pelabuhan Al-Hariga, Zweitina, Ras Lanuf dan Al-Sidra yang merupakan jalur utama penjualan minyak mentah dan gas Libya.

Ekonomi Libya sangat bergantung pada minyak dengan produksi sebesar 1,6 juta barel per hari di era mendiang diktator Moamer Kadhafi. Nilai total ekspor minyaknya mencapai lebih dari 95 persen pemasukan negara itu.

Setelah Kadhafi digulingkan pada 2011 silam, produksi minyak Libya turun sekitar 20 persen dari sebelumnya sebelum bisa kembali mencapai lebih dari satu juta barel per hari di akhir 2017.

OPEC memperkirakan cadangan minyak Libya mencapai 48 miliar barel dan merupakan cadangan minyak terbesar di Afrika.

Minggu lalu, NOC mengumumkan rencana meningkatkan pemasukan dari sektor minyak hingga 80 persen atau setara dengan US$23 miliar, naik dari US$13 miliar pada 2017.

Meski terjadi berbagai gangguan tahun ini, pemasukan dari sektor minyak pada enam bulan pertama tahun ini mencapai US$13,6 miliar yang telah melewati total pemasukan tahun sebelumnya.

[Gambas:Video CNN] (yns)