Menara Peringatan Tsunami Rusak, Warga Thailand Khawatir

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 16:14 WIB
Menara Peringatan Tsunami Rusak, Warga Thailand Khawatir Ilustrasi. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketakutan penduduk lokal di Phuket, Thailand, akan tsunami meningkat setelah gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Sulawesi Tengah. Kekhawatiran memuncak ketika menara peringatan tsunami di sana tak berfungsi dengan baik.

"Saya tidak terlalu percaya dengan sistem dari menara peringatan," kata seorang tukang pijat di Pantai Kamala, Kantima Datthuyawat.

Kantima mengaku selalu memperhatikan suara peringatan dari menara itu, tapi biasanya dia kecewa karena tidak berfungsi dengan baik.


"Terkadang volume suaranya sangat rendah sehingga kalah dengan suara ombak. Kadang suara dari menara tidak jelas, sebentar hilang sebentar muncul," kata dia.
Ia pun mendesak pihak berwenang agar memeriksa sistem menara peringatan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan agar mereka dapat bersiap ketika bencana melanda.

Ada 19 menara peringatan yang didirikan di Phuket setelah gelombang tsunami menghantam enam provinsi di Pantai Andaman pada 2004.

Tsunami yang terjadi di Samudra Hindia itu dipicu oleh gempa berkekuatan 9,15 skala Richter di Indonesia. Bencana itu membuat 226.000 orang tewas dan hilang di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, dan sembilan negara lain.

Sejak saat itu, masyarakat setempat melatih pendengaran mereka untuk siaga akan semua suara dari menara peringatan.
Sistem ini diperiksa setiap Rabu. Belakangan, pihak pemeriksa menyadari ada kerusakan dalam sistem tersebut.

"Saya telah mengikuti pengujian selama ini. Jadi, saya bisa mengatakan bahwa sistem ini memiliki masalah," kata Yeehad Dendayong, orang yang bekerja menyediakan tempat tidur di pantai.

Menurut Yeehad, pihak berwenang seharusnya menganggap serius masalah ini karena Pantai Kamala menarik banyak wisatawan.

"Jika terjadi sesuatu dan suara peringatan terlalu kecil untuk didengar, para turis ini mungkin tidak dapat melarikan diri tepat waktu," katanya.
Menara Peringatan Tsunami Rusak, Warga Thailand KhawatirSistem peringatan tsunami dianggap sangat penting, terutama di daerah ramai turis seperti Phuket. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Mantan pejabat Dinas Kesehatan Publik, Apichai Mohammad, mengatakan bahwa ketika menara pertama kali didirikan, seluruh sistem sebenarnya berfungsi dengan baik.

"Namun, akhir-akhir ini, suara dari menara itu hampir tidak terdengar. Volume suaranya hanya 10 persen," tuturnya.

Para ahli seismologi mengatakan bahwa sesungguhnya kemungkinan tsunami di Kepulauan Andaman masih sangat kecil, sementara risiko di teluk Thailand bisa dikatakan tidak mungkin.

"Banyak orang tua, bahkan yang tertua di pulau itu, tidak dapat mengingat bencana tsunami yang pernah terjadi di Andaman selama masa hidup mereka sebelum tsunami pada 2004," kata Paiboon Nuannin, dosen geofisika di Universitas Prince Songkhla.

"Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa sudah lebih dari 100 tahun sebelum tsunami kembali menghantam kepulauan Andaman."

[Gambas:Video CNN]

Meski demikian, Paiboon menganggap sistem peringatan tsunami tetap penting untuk berjaga-jaga.

"Sangat penting bahwa pihak berwenang memiliki perintah dan prosedur yang jelas dalam tanggap darurat sehingga orang-orang dapat melakukan latihan tanggap darurat dengan serius dan sepenuhnya bisa mematuhi peraturan resmi," kata Paiboon.

"Dalam situasi nyata bencana tsunami di kepulauan Andaman, peringatan bencana dan evakuasi harus selesai dalam waktu 20 menit setelah terjadi tsunami. Hal ini karena kami hanya memiliki waktu 30 hingga 60 menit sebelum ombak menerjang pantai." (cin/has)