Ulama Radikal Pendukung ISIS di Inggris Bebas dari Penjara

Tim , CNN Indonesia | Jumat, 19/10/2018 20:20 WIB
Ulama Radikal Pendukung ISIS di Inggris Bebas dari Penjara Ilustrasi (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Inggris membebaskan Ulama radikal pendukung ISIS Anjem Choudary setelah menjalani separuh dari hukumannya di tahanan Berlmarsh, Jumat (19/10).

Pria 51 tahun itu dipenjara selama lima setengah tahun sejak 2016 lalu dan akan menjalani sisa hukumannya di bawah pengawasan ketat otoritas Inggris.

Setelah bebas bersyarat, Choudary diperkirakan akan kembali ke rumahnya di Ilford, timur Kota London. Meski begitu, dia tidak diperkenankan menggunakan perangkat internet dan komunikasi lainnya tanpa izin.


Dikutip AFP, Choudary juga disebut tidak boleh keluar Inggris tanpa izin. Ia juga tidak diperkenankan menghadiri kegiatan agama di masjid-masjid dan hanya bisa bertemu dengan orang-orang yang disetujui polisi.

Selama dua dekade, Choudary berprofesi sebagai pengkhotbah radikal paling terkemuka di Inggris. Dia merupakan mantan pengacara yang merupakan keturunan Pakistan.

Choudary adalah mantan Kepala organisasi Islam4UK atau al-Muhajiroun. Organisasi itu mendukung diberlakukannya hukum Islam di Inggris.

Kini, organisasi yang didirikan oleh Omar Bakri Muhammad dilarang beroperasi di Inggris.

Beberapa tokoh yang terpapar radikalisasi oleh Muhajiroun adalah pelaku bom bunuh diri di stasiun kereta bawah tanah London pada Juli 2005 lalu. Pelaku pembunuhan personel militer Inggirs Lee Rigby pada 2013 juga disebut anggota organisasi tersebut.

Choudary dan rekannya Mohammed Rahman ditangkap kepolisian anti-terorisme Kepolisian Metropolitan London pada 25 September 2014 lalu.

Pengadilan menyatakan Choudary bersalah karena menyebarkan pidato-pidato pemimpin ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi.

Ayah dari lima anak ini sebelumnya sempat menjadi berita utama karena menggelar acara pro-Osama bin Laden di London pada 2011 lalu.

Dia juga merupakan bagian dari kelompok yang membakar bunga popy, simbol peringatan kematian dalam perang, saat aksi damai Hari Gencatan Senjata di London pada 2010 lalu.

Dalam sebuah wawancara tahun 2014 dengan AFP, Choudary menyerukan wartawan, warga, dan militer asing dari negara Barat di "negara-negara Muslim" untuk "sepenuhnya mundur dan izinkan kami menerapkan syariah Islam."

Mantan pemimpin pasukan anti-terorisme kepolisian Inggirs, Richard Walton, menganggal Choudary sebagai "teroris berbahaya yang keras" yang memiliki "pengaruh besar terhadap ekstremisme di negara ini." (eks/eks)