Pekan Depan, Pejabat Inggris Akan Tagih Kesepakatan Brexit

Tim , CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 12:04 WIB
Pekan Depan, Pejabat Inggris Akan Tagih Kesepakatan Brexit Ilustrasi (REUTERS/Neil Hall)
Jakarta, CNN Indonesia -- Uni Eropa akan mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pekan depan. KTT ini dianggap sebagai kesempatan terakhir bagi Inggris untuk menagih negosiasi Brexit.

Dengan waktu yang tersisa, Perdana Menteri Brexit,Theresa May mestinya mendesak agar Brexit yang bisa segera disetujui oleh Parlemen Eropa.

Inggris dijadwalkan untuk keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret 2019. Untuk itu, para pejabat dari London dan Brussels mengatakan bahwa draft kesepakatan Brexit harus selesai pada malam puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa 17 Oktober mendatang atau tenggat waktu paling lama hingga pertengahan November.


Namun, beberapa pejabat Eropa mengisyaratkan bahwa tanggal Brexit itu masih bisa diubah, sehingga seluruh urgensi yang didorong berbagai pihak belakangan ini tidak perlu.

Untuk Eropa, tenggat waktu pada Maret adalah murni hal teknis. Ini berdasarkan pada proses pasal 50 yang tidak pernah digunakan untuk menentukan waktu memisahkan diri dari Uni Eropa.

Inggris menganggap Uni Eropa terlalu "santai" terkait kesepakatan Brexit dengan tenggat waktu hingga Maret mendatang (REUTERS/Neil Hall)
Berdasarkan pasal 50 dari perjanjian Uni Eropa, kedua belah pihak memiliki waktu dua tahun untuk merundingkan perjanjian pelepasan Inggris dari Uni Eropa.

Inggris pertama kali memulai proses untuk terpisah dari Uni Eropa pada 29 Maret 2017. Bagi pejabat Uni Eropa, tenggat waktu bagi Inggris untuk lepas dari kesatuan mereka tepat dua tahun kemudian.

Namun, kesepakatan penarikan Inggris dari Uni Eropa masih membutuhkan ratifikasi oleh parlemen Uni Eropa.

Untuk itu, Anggota parlemen Eropa dianggap akan membuat banyak kebisingan. Terutama karena komisi ini dipimpin oleh pemimpin liberal koordinator Brexit, Guy Verhofstadt. Tetapi, tak banyak yang percaya kalau parlemen Eropa akan memperlambat dan memblokir kesepakatan penting yang dibuat oleh 28 pemimpin Uni Eropa.

Bahkan, seorang sumber mengatakan Parlemen Eropa harus segera memilih sebelum 30 Maret.

"Parlemen dapat memilih pada perjanjian ini sekitar 25 atau 26 Maret, dengan asumsi bahwa pada 29 Maret Brexit sudah berlaku," kata sumber itu.

"Hal ini tentu tidak diinginkan untuk keputusan yang diambil begitu ketat hingga batas waktu yang ditentukan. Tapi, secara teknis memungkinkan," kata dia menambahkan.

Sesi terakhir parlemen Uni Eropa itu dilakukan pada 18 April lalu, sebelum mereka melakukan pemilihan pada akhir Mei.


Pejabat Inggris marah

Para pejabat Inggris marah terkait banyaknya orang yang menganggap enteng tenggat waktu yang telah ditentukan.

"Orang-orang perlu menyadari bahwa pemungutan suara ini mungkin hal yang paling penting selama hidup kita. Ini bukan main-main dan tidak bisa dilewati," kata seorang sumber.

Pejabat Inggris mengatakan pembicaraan mengenai Brexit dengan pejabat Uni Eropa dapat berlanjut hingga pertengahan November.

Sebab, jika perundingan ini berakhir tanpa kesepakatan, May masih menyediakan cukup waktu bagi anggota parlemen untuk berdebat dan menyetujui pemisahan itu.

Menurut The Institute for Government, kesepakatan Brexit pada Oktober lalu sangat tertekan. Jika perundingan ini mundur melewati UU, maka akan ini menjadi sebuah tugas yang berat.

Penarikan Uni Eropa ini akan menjadi pemungutan suara yang penting bagi Inggris. Para ahli mengutip perjanjian utama Uni Eropa sebelumnya yang disahkan oleh parlemen Inggris merupakan sebuah patokan untuk waktu yang diperlukan.

Perjanjian Uni Eropa di Roma dan Maastricht memakan waktu masing-masing sekitar 40 hari untuk melewati House of Commons dan Dewan Pertuanan (House of Lords).

Masih ada 70 hari sebelum rencana Brexit dan ada sekitar 50 hari dari pertemuan Uni Eropa yang sudah dijadwalkan pada Desember mendatang. (cin/eks)