Argentina Usut Dugaan Pelanggaran HAM Putra Mahkota Saudi

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 11:55 WIB
Argentina Usut Dugaan Pelanggaran HAM Putra Mahkota Saudi Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. (Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penegak hukum Argentina menyatakan sedang memulai penyelidikan terhadap Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Investigasi itu fokus pada dugaan pelanggaran hak asasi manusia, seperti kejahatan perang yang dilakukan pasukan Koalisi Saudi dalam konflik di Yaman, dan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Penyelidikan itu dilakukan menjelang KTT G20 yang akan digelar di Ibu Kota Buenos Aires pada 30 November mendatang.

Lembaga pemantau hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW) yang mengajukan permintaan penyelidikan dan mendaftarkan sejumlah dokumen berkaitan dengan dugaan kejahatan perang Saudi di Yaman. Sebab, Pangeran Salman masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Di samping itu, mereka juga meminta supaya penegak hukum Argentina menyelidiki tentang dugaan penyiksaan dan kekejaman terhadap sejumlah aktivis di Arab Saudi, termasuk dugaan pembunuhan Khashoggi.
Direktur Eksekutif HRW, Kenneth Roth berharap penegak hukum Argentina mau mengusut Pangeran Salman, atas bukti-bukti yang mereka berikan.


"Kehadiran Pangeran Salman dalam KTT G20 di Buenos Aires bisa dimanfaatkan oleh para korban dan keluarga yang ditinggalkan akibat dugaan kejahatannya di Yaman dan Arab Saudi melalui pengadilan Argentina," kata Roth, seperti dilansir dari situs HRW, Selasa (27/11).

Proses itu bisa dilakukan karena undang-undang Argentina mengakui kewenangan hukum universal untuk kejahatan perang dan penyiksaan. Maksudnya adalah para jaksa dan hakim bisa dan mampu menyelidiki, menuntut dan mengadili bentuk-bentuk kejahatan itu di manapun terjadi, walau korbannya bukan warga Argentina. Hal ini menjadi penting untuk menyeret para pelakunya ke meja hijau dan memberikan keadilan kepada korban.

Pasukan Koalisi Saudi sejak 2015 ikut campur dalam perang saudara di Yaman. Mereka beralasan membantu pemerintah Presiden Abdrabbuh Abu Mansour yang dikudeta oleh pemberontak Huthi. Kabarnya perang Yaman adalah wujud persaingan pengaruh antara Arab Saudi dan Iran. Sebab, Saudi menuding Iran membantu kelompok Huthi.
Sejak itu pula mereka menggempur sejumlah target di Yaman yang dianggap sebagai basis pemberontak. Namun, serangan udara mereka justru kerap menyasar warga sipil seperti rumah, sekolah, rumah sakit, pasar, dan masjid.

Mereka juga memblokade pelabuhan sehingga menyebabkan arus bantuan berupa makanan, air, dan obat-obatan untuk warga sipil terhambat. Dampaknya adalah kelaparan dan wabah penyakit merebak di Yaman.

Menurut Roth, penyelidikan kejahatan perang yang dilakukan pasukan Koalisi Saudi dua tahun lalu dianggap belum cukup. Penyebabnya adalah jika ada insiden yang merenggut nyawa rakyat sipil mereka selalu berkelit hal itu adalah kecelakaan saat operasi militer. Mereka juga menyatakan proses itu tidak menyeluruh dan tertutup.
"Jika pemerintah Argentina memutuskan melanjutkan penyelidikan itu, maka akan menjadi pertanda kuat kepada Pangeran Salman kalau dia tidak bisa lari dari tanggung jawab. Dia juga harus tahu akan diusut jika bertandang ke Argentina," ujar Roth. (ayp/ayp)