Soal Yerusalem, RI Desak Australia Segera Akui Palestina

CNN Indonesia | Sabtu, 15/12/2018 13:55 WIB
Soal Yerusalem, RI Desak Australia Segera Akui Palestina Ilustrasi Kemlu RI. (CNNIndonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia mengajak Australia agar segera mengakui negara Palestina setelah Perdana Menteri Scott Morrison mengumumkan pengakuan Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel.

"Indonesia mengajak Australia dan semua anggota PBB untuk segera mengakui negara Palestina dan bekerja sama guna tercapainya perdamaian yang berkelanjutan dan kesepakatan antara Palestina dan Israel berdasarkan prinsip two state solution," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri RI yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (15/12).

Selama ini, Australia dan 49 negara anggota PBB lainnya memang tercatat belum mengakui Palestina sebagai negara.
Selain itu, Kemlu juga mengingatkan kembali bahwa Indonesia mencatat dengan baik posisi Australia yang menyatakan dukungan prinsip two-state solution dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.


"Indonesia menegaskan kembali bahwa isu Yerusalem merupakan salah satu dari 6 isu yang harus dinegosiasikan dan diputuskan sebagai bagian akhir dari perdamaian komprehensif antara Palestina dan Israel dalam kerangka two state solution," tulis Kemlu RI.

Tak hanya itu, Indonesia juga mencatat pernyataan Australia "tidak memindahkan kedutaannya ke Yerusalem."
Saat mengumumkan pengakuan Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel, Morrison memang mengatakan Australia belum memindahkan kedubesnya untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Namun, ia memastikan langkah itu akan diambil jika waktunya sudah tepat.

"Kami akan memindahkan kedutaan besar kami ke Yerusalem Barat ketika sudah memungkinkan," ujar Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, sebagaimana dikutip Reuters, Sabtu (15/12).

Sebelumnya, seorang sumber mengatakan bahwa Australia belum dapat memindahkan kantor kedutaan besarnya karena alasan biaya.

Indonesia sendiri sudah memantau sikap Australia sejak Morrison mengutarakan pertimbangan negaranya untuk merelokasi kedubes Australia untuk Israel ke Yerusalem pada Oktober lalu.
Sebagai pendukung Palestina, Indonesia menentang keras rencana Australia tersebut karena dianggap semakin mengancam prospek perdamaian Israel-Palestina.

Selain itu, Jakarta menilai langkah kontroversial yang terinspirasi dari Amerika Serikat itu melanggar hukum internasional.

Tak lama setelah rencana kontroversial itu diumumkan Morrison, Indonesia langsung menerbitkan pernyataan kecaman hingga memanggil duta besar Australia di Jakarta.

Indonesia bahkan mengancam rencana Negeri Kangguru itu bisa mempengaruhi proses penyelesaian perjanjian perdagangan bernilai US$11,4 miliar (sekitar Rp17,3 triliun) dengan Australia. (has/has)