Ledakan Bom Katedral di Filipina Tewaskan 17 Orang

CNN Indonesia | Minggu, 27/01/2019 13:40 WIB
Ledakan Bom Katedral di Filipina Tewaskan 17 Orang Ilustrasi (Foto: REUTERS/Shannon Stapleton)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 17 orang orang dilaporkan tewas dan 56 orang lainnya luka-luka akibat dua ledakan bom di sebuah katedral di sebuah pulau di Filipina selatan.

Ledakan pertama terjadi di dalam Katedral Jolo, Mindanao pada Minggu (27/1) pagi tepat saat misa pertama dilaksanakan. Ledakan susulan pun terjadi sesaat setelah para tentara merespons ledakan pertama.

Militer Filipina mengatakan wilayah tersebut merupakan basis militan Islam dan menyebut aksi pengeboman kali ini sebagai aksi terorisme.


"Motifnya sudah pasti...terorisme. Mereka adalah orang yang tidak menginginkan kedamaian. Yang menyedihkan, peristiwa ini terjadi tepat setelah undang-undang Bangsamoro sudah diratifikasi," ujar Letkol Gerry Besana seperti dilaporkan AFP.

Jolo terletak di wilayah otonom mayoritas Muslim Bangsamoro. Usulan ini telah disetujui pada saat pemilihan lokal minggu lalu. Pulau ini juga basis grup Islam militan Abu Sayyaf. Ia disalahkan atas serangan teror yang melanda Filipina.

Pekan lalu para pemilih sepakat menerima wilayah otonom yang lebih kuat di Filipina selatan. Harapannya, keputusan ini akan membawa kedamaian dan pembangunan setelah bertahun-tahun perang yang telah menelan korban dan mengakibatkan kemiskinan.

Di sisi lain, Provinsi Sulu yang masih masuk ke dalam area Jolo justru tidak menginginkan adanya wilayah baru. Pemerintah setempat mempertanyakan undang-undang yang menetapkan wilayah tersebut di hadapan Mahkamah Agung.

Di luar suara Sulu, undang-undang menyatakan bahwa provinsi tersebut akan tetap dimasukkan dalam entitas politik baru karena para pemilih dari wilayah otonom saat ini mendukungnya secara keseluruhan.

Sementara itu dalam sebuah pernyataan, Menteri pertahanan Delfin N. Lorenzana mengutuk pemboman dan mengatakan ia telah mengarahkan pasukan untuk mengamankan tempat-tempat ibadah dan ruang publik.

"Tetap tenang dan hindari menyebarkan kepanikan di komunitas kita masing-masing demi mencegah kemenangan terorisme," kata Lorenzana mengutip CNN, Minggu (27/1).