Kanada Merayu China Beri Grasi Untuk Warga yang Divonis Mati

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 11:25 WIB
Kanada Merayu China Beri Grasi Untuk Warga yang Divonis Mati Ilustrasi Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau. (REUTERS/Chris Wattie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kanada mendesak China untuk memberikan grasi kepada seorang warganya, Robert Lloyd Schellenberg (36), yang divonis mati terkait kasus narkoba. Persoalan ini semakin menambah perseteruan diplomatik, setelah Kanada menahan Direktur Keuangan Huawei, Meng Wangzhou pada Desember 2018 lalu.

Kanada mengatakan telah memperingatkan warganya supaya tidak sembarangan di China. Mereka menuding penegakan hukum di Negeri Tirai Bambu sewenang-wenang.

"Kami telah berbicara dengan duta besar China untuk Kanada dan meminta grasi untuk Schellenberg," kata Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland kepada wartawan di Sainte-Hyacinthe, Quebec, seperti dilansir AFP, Rabu (15/1).


Freeland menyatakan Kanada tidak pernah menyetujui adanya hukuman mati.
"Kami meyakini hal itu tidak manusiawi dan tidak pantas, dan bila terdapat hukuman mati yang terkait dengan Kanada, dimana pun itu kami akan menentangnya," katanya.

Pengadilan Tinggi Dalian, China menjatuhkan vonis mati kepada Schellenberg karena terbukti menyelundupkan narkoba berjenis metamphetamine (sabu) pada Senin lalu. Putusan ini menjadi babak baru ketegangan antara kedua negara, selepas penahanan Meng tahun lalu, atas perintah Amerika Serikat. Meng dituduh melakukan transaksi dengan Iran, yang dijatuhi sanksi oleh AS.

Kuasa hukum terdakwa, Zhang Dongshuo menyatakan akan mengajukan memori banding ke Mahkamah Agung. Menurut dia, jaksa tidak punya bukti baru yang menyatakan kliennya terlibat sindikat narkoba. Dia juga menyayangkan hakim pada pengadilan tinggi menaikkan hukuman.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau merasa kecewa dengan putusan pengadilan China.
"Ini sangat memprihatinkan bagi kami sebagai pemerintah, dan juga terhadap seluruh sahabat internasional dan sekutu-sekutu kami, China telah memilih untuk memulai menerapkan hukuman mati untuk kasus-kasus, yang saat ini, dihadapi oleh seorang warga negara Kanada," kata Trudeau.

Pemerintah China tidak terima dengan pernyataan Trudeau. Mereka meminta Trudeau menghormati hukum yang berlaku di Negeri Tirai Bambu, dan tidak mencampuri.

"Mereka tidak menghormati aturan hukum, menghormati kedaulatan peradilan Tiongkok, memperbaiki kesalahan dan berhenti membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Hua Chunying.

Langkah ini dilihat pengamat sebagai pembalasan atas kasus bos Huawei. China sampai saat ini sudah menahan 13 warga Kanada, termasuk seorang mantan diplomat dan seorang konsultan bisnis, dengan tuduhan membahayakan keamanan nasional dan delik lainnya.

Direktur Eksekutif Human Rights Watch, Kenneth Roth mengatakan, China sedang memainkan 'politik sandera' dalam perkara ini.
Menurut Direktur lembaga hak asasi Yayasan Dui Hua, John Kamm, China mengeksekusi satu hingga dua orang asing setiap tahunnya, dan hampir semuanya terkait dengan kasus narkoba. Namun, kasus Schellenberg kali ini dipandang berbeda karena ditarik ke ranah politik. (syf/ayp)