Dampak Pemangkasan Bantuan AS Bikin Warga Palestina Kesulitan

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 21:20 WIB
Dampak Pemangkasan Bantuan AS Bikin Warga Palestina Kesulitan Ilustrasi warga Palestina di Jalur Gaza. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dampak pemangkasan bantuan dari Amerika Serikat terhadap Palestina mulai terasa. Puluhan ribu warga kini tidak lagi memperoleh bantuan makanan atau layanan kesehatan dasar.

Sejumlah proyek infrastruktur yang didanai AS juga mandek. Keputusan Presiden Donald Trump memangkas lebih dari USD200 juta dollar (Rp2,8 triliun) dana bantuan bagi Palestina memaksa sejumlah lembaga non pemerintah menyunat program dan memberhentikan staf mereka.

Badan Bantuan pemerintah AS, USAID, menyediakan lebih dari USD5,5 miliar (sekitar Rp78,2 triliun) kepada Palestina sejak 1994. Dana itu dipakai untuk pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, pemerintahan dan program-program bantuan kemanusiaan.


Trump mengatakan pemotongan dana bantuan bertujuan menekan Palestina agar kembali ke perundingan damai. Namun, Palestina terlanjur kecewa setelah AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel tahun lalu.
"Itu benar-benar menyakitkan, karena ini berbicara tentang bantuan yang paling mendasar," kata direktur lembaga swadaya masyarakat Global Community, Lana Abu Hijleh, seperti dilansir AFP, Selasa (22/1).

Sadeqa Nasser, seorang penghuni kamp pengungsian Jabaliya, Jalur Gaza, selama ini bergantung dari bantuan karena suaminya mengalami cacat. Dia juga tinggal bersama enam anak dan empat cucu.

Sadeqa mengatakan masing-masing penghasilan putranya kurang dari USD5 per hari dari pekerjaan sambilan.

"Mereka tidak mampu membeli makanan untuk keluarga mereka, jadi saya membantu mereka," katanya.

Karena bantuan AS terputus, Sadeqa kini berharap pada bantuan dari Otoritas Palestina.

"Tanpa itu kita akan kelaparan," katanya.

Proyek infrastruktur, termasuk fasilitas pengolahan air yang sangat dibutuhkan di Jalur Gaza yang diblokade, juga ditunda karena anggaran dipangkas. Sejumlah LSM mencoba mencari penyumbang lain, tetapi jumlahnya tidak ada yang menyamai bantuan USAID.
Sikap Trump disebut tidak bakal membawa kemajuan bagi proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Malah dikhawatirkan semakin memperburuk keadaan.

"Ketika AS menarik diri dari Timur Tengah, kami menanggung sendiri resiko atas segala tindakan yang kami lakukan dan kami melakukannya demi kebaikan lawan kami," kata mantan Direktur Misi USAID di Tepi Barat dan Jalur Gaza, Dave Harden. (syf/ayp)