Produksi Pangan Korut Capai Rekor Terendah dalam Satu Dekade

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 16:20 WIB
Produksi Pangan Korut Capai Rekor Terendah dalam Satu Dekade Ilustrasi Korut. (Reuters/Damir Sagolj)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa produksi pangan Korea Utara mencapai rekor terendah dalam satu dekade belakangan.

Laporan Kebutuhan dan Prioritas PBB yang dirilis pada Rabu (6/3) menunjukkan bahwa produksi pangan Korut pada 2018 hanya mencapai 4,95 juta ton, menurun 500 ribu ton dari tahun sebelumnya.

"Ini adalah produksi terendah dalam lebih dari sepuluh tahun belakangan," ujar Koordinator Residen PBB di Korut, Tapan Mishra, sebagaimana dikutip AFP, Rabu (6/3).


Akibat kekurangan pangan ini, orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan di Korut mencapai 10,9 juta, setara 43 persen dari populasi keseluruhan di negara itu. Angka tersebut melonjak 600 ribu dari tahun sebelumnya.
Sementara jumlah orang yang harus dibantu terus meningkat, PBB justru harus memangkas bantuannya hingga hanya dapat menolong 3,8 juta orang dari sebelumnya 6 juta.

Menurut PBB, bantuan yang mereka koordinasikan untuk Korut memang menurun, terutama karena berbagai sanksi internasional atas negara pimpinan Kim Jong-un tersebut. Tahun lalu saja, mereka hanya bisa memenuhi 24 persen dari keseluruhan target penerima bantuan.

PBB pun mendesak sejumlah badan pendonor untuk mempertimbangkan kembali program mereka dan "tidak membiarkan pertimbangan politik menghalangi jalan untuk memberikan bantuan kemanusiaan."
Selama ini, komunitas internasional mengecam Korut karena lebih mementingkan pengembangan senjata nuklir ketimbang kesejahteraan rakyatnya sendiri.

Korut sendiri awalnya lebih makmur ketimbang Korea Selatan berkat bantuan Rusia pasca-Perang Korea. Namun, keadaan berubah drastis setelah Uni Soviet runtuh.

Dengan tata kelola keuangan yang buruk, perekonomian Korut terpuruk. Hingga akhirnya, Korut dilanda kelaparan besar-besaran yang merenggut ratusan ribu nyawa penduduknya.
Meski sudah lama berlalu, hingga kini Korut masih belum mendapatkan akses ke teknologi agrikultur terbaru. Panen mereka pun di bawah rata-rata dunia.

Selain itu, hanya 20 persen tanah di Korut yang dapat dijadikan lahan agrikultur sehingga tingkat pemenuhan pangan warga memang sangat kecil.

Keadaan kian parah setelah gelombang panas menghantam Korut pada Juli dan Agustus tahun lalu, disusul banjir bandang akibat Topan Soulik tak lama setelahnya.

[Gambas:Video CNN]

Bulan lalu, Korut pun mengeluh kepada PBB bahwa mereka kekurangan pangan hingga 1,4 juta ton tahun ini. Mishra lantas kembali membujuk para negara pendonor untuk mempertimbangkan kembali pemangkasan bantuan mereka.

"Kita tidak bisa meninggalkan mereka," kata Mishra. (has/has)