Maduro Rayakan Setahun Kemenangan Kontroversialnya di Pemilu

CNN Indonesia | Selasa, 21/05/2019 10:01 WIB
Maduro Rayakan Setahun Kemenangan Kontroversialnya di Pemilu Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, memperingati setahun kemenangan kontroversialnya dalam pemilu di tengah krisis politik dan ekonomi negaranya, Senin (20/5). (Reuters/Ivan Alvarado/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, memperingati setahun kemenangan kontroversialnya dalam pemilihan umum di tengah krisis politik dan ekonomi yang terus merongrong negaranya, Senin (20/5).

"Kita merayakan satu tahun kemenangan suara populer pada 20 Mei 2018, hari di mana Venezuela memutuskan mendukung perdamaian, demokrasi, dan kebebasan," tulis Maduro di Twitternya.




Ratusan pendukung Maduro juga turun ke ruas-ruas jalan Kota Caracas untuk memperingati kemenangan pemilu yang dianggap banyak pihak palsu itu.

Mengenakan kaus merah dan mengibarkan bendera Partai Sosialis, para pendukung Maduro turun ke jalanan ibu kota sambil membawa slogan bertuliskan "Seruan untuk Kemenangan!"

Maduro diperkirakan akan menyapa para pendukungnya yang juga berkumpul di depan Istana Kepresidenan Miraflores.

"Ini telah menjadi sebuah pertempuran, sebuah perang. Mereka belum memberikan dia (Maduro) kesempatan untuk memerintah," ucap pendukung Maduro, Hector Aular, kepada AFP.
Aular menganggap tahun pertama Maduro menjalani periode keduanya sebagai "masa sulit."

Maduro tetap dilantik sebagai presiden pada Januari lalu meski banyak pihak menganggap pemilu pada Mei 2018 lalu tidak sah karena banyak kejanggalan hingga memicu pemboikotan dari kubu oposisi.

Dewan pemilu Venezuela saat itu menyatakan Maduro mendapatkan 5,8 juta suara, sementara pesaing terdekatnya, Henri Falcon, hanya meraup 1,8 juta.

[Gambas:Video CNN]

Pelantikan Maduro memperkeruh krisis politik Venezuela, hingga mendorong ketua Majelis Nasional atau parlemen, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai presiden interim negara Amerika Latin itu.

Langkah itu dilakukan Guaido sebagai penentangan terhadap kepemimpinan Maduro yang dianggapnya tidak sah. Deklarasi sepihak Guaido pun turut didukung lebih dari 50 negara termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. (rds/has)