Trump Transfer Info Nuklir ke Saudi Usai Pembunuhan Khashoggi

CNN Indonesia | Rabu, 05/06/2019 14:22 WIB
Trump Transfer Info Nuklir ke Saudi Usai Pembunuhan Khashoggi Pemerintahan Donald Trump dilaporkan menyepakati transfer informasi nuklir ke Arab Saudi tak lama usai pembunuhan Jamal Khashoggi, jurnalis pengkritik Riyadh. (Reuters/Jim Young)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan menyepakati transfer informasi nuklir ke Arab Saudi tak lama setelah insiden pembunuhan Jamal Khashoggi, jurnalis pengkritik Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), Oktober lalu.

Kabar pengiriman informasi mengenai nuklir ini pertama kali diungkap oleh seorang senator dari Partai Demokrat, Tim Kaine, pada Selasa (4/6).

Kaine membeberkan bahwa pengiriman pertama dari dua transfer tersebut dilakukan pada 18 Oktober 2018, berselang 16 hari setelah Khashoggi dilaporkan tewas di gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki.


Setelah itu, AS kembali menyepakati transfer informasi mengenai nuklir ke Saudi pada Februari lalu.
Menurut Kaine, transfer ini merupakan bagian dari tujuh pengiriman informasi yang sudah dilakukan sejak Desember 2017.

Selama ini, AS sendiri sudah menyepakati 810 transfer informasi serupa ke Saudi untuk membantu pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir Riyadh.

Biasanya, AS langsung merilis pihak perusahaan penerima informasi mengenai nuklir tersebut. Namun, dalam dua pengiriman belakangan ini, Kementerian Energi tidak mengungkap pihak penerima.
Meski memang merupakan bagian dari kesepakatan jangka panjang, Kaine tetap mempermasalahkan waktu pengiriman yang berdekatan dengan pembunuhan Khashoggi.

Insiden tersebut menuai kritik dari berbagai belahan dunia. Aparat Turki bahkan menuding pemerintahan Saudi sebagai dalang di balik pembunuhan jurnalis pengkritik kerajaan tersebut.

Namun, sikap Trump terhadap Saudi dianggap terlalu lembek, padahal Badan Intelijen AS (CIA) dilaporkan sudah menarik simpulan bahwa MbS memerintahkan langsung pembunuhan Khashoggi.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah pihak di AS, terutama kubu oposisi, pun menganggap Trump terjerumus dalam konflik kepentingan demi menyelamatkan kesepakatan bisnis dengan Saudi.

Kaine pun menyebut waktu pengiriman informasi itu "sangat mengejutkan" dan menunjukkan "pola perilaku yang mengganggu." (has/has)