Theresa May Resmi Mundur, Pertarungan Jadi PM Inggris Dimulai

CNN Indonesia | Sabtu, 08/06/2019 09:22 WIB
Theresa May Resmi Mundur, Pertarungan Jadi PM Inggris Dimulai Theresa May resmi mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif, memicu pertarungan untuk memperebutkan kursi perdana menteri di tengah kisruh Brexit. (Reuters/Jack Taylor/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Theresa May resmi mengundurkan diri sebagai pemimpin partai berkuasa Inggris, Konservatif, memicu pertarungan untuk memperebutkan kursi perdana menteri di tengah kisruh Brexit.

"Menyusul notifikasi dari Perdana Menteri Theresa May bahwa ia mundur sebagai pemimpin Partai Konservatif, kami mengundang pencalonan dari semua anggota Konservatif yang ingin ikut serta dalam pemilu untuk menjadi pemimpin partai," demikian pernyataan komite pemilu Partai Konservatif, seperti dilansir AFP, Jumat (7/6).
Komite tersebut memastikan bahwa May masih akan menjadi pemimpin pelaksana Partai Konservatif hingga penerusnya terpilih. Namun, May telah meletakkan kendali atas proses Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit.

May memang diberi kepercayaan untuk menjadi PM Inggris setelah referendum Inggris keluar dari UE berlangsung pada pertengahan 2016 silam. Masa pemerintahannya pun diisi dengan negosiasi-negosiasi untuk menuntaskan proses Brexit.


Ketika proses negosiasi Brexit tak kunjung menemukan jalan keluar di bawah pemerintahannya, ia memutuskan mundur pada bulan lalu.
Dengan demikian, ia menyerahkan beban proses negosiasi ke pundak penggantinya yang harus merampungkan Brexit paling lambat pada 31 Oktober mendatang.

Terhitung 11 anggota Partai Konservatif akan berlomba untuk mengisi kursi May, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson.

Siapapun yang terpilih akan dihadapkan pada beberapa opsi, yaitu meneruskan rencana May keluar dari Uni Eropa dengan mempertahankan kesepakatan dagang, atau mengikuti keinginan oposisi untuk hengkang tanpa perjanjian apa pun.

[Gambas:Video CNN]

Boris Johnson sebagai tokoh dalam kampanye Brexit pada 2016, menjadi salah kandidat yang dijagokan dalam pertarungan ini. Namun, ia terbuka untuk mengeluarkan Inggris dari keanggotaan Uni Eropa dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan.

Salah satu penantang terberat Johnson adalah Andrea Leadsom, mantan pemimpin Dewan Rendah parlemen yang ingin membawa Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Nama Michael Gove juga muncul di daftar tiga teratas kandidat yang dijagokan. Pria berusia 51 tahun ini termasuk di antara orang Eropa paling bersemangat yang tersisa di pemerintahan May dan dipandang sebagai figur pemersatu.

Ia mengaku siap untuk menunda Brexit hingga tahun depan daripada hengkang tanpa kesepakatan pada 31 Oktober. (has/has)