Rusia Desak AS Batalkan Rencana Kirim Tentara ke Timteng

CNN Indonesia | Selasa, 18/06/2019 23:44 WIB
Rusia Desak AS Batalkan Rencana Kirim Tentara ke Timteng Ilustrasi tentara Amerika Serikat. (REUTERS/Goran Tomasevic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia mendesak Amerika Serikat agar membatalkan apa yang disebut sebagai rencana provokatif dengan mengerahkan lagi tentara ke Timur Tengah.

Rusia juga meminta AS menghentikan aksi-aksi, yang tampak seperti usaha yang disadari memprovokasi perang melawan Iran.


Komentar-komentar tersebut, yang disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov kepada kantor berita Rusia, dikeluarkan setelah pengumuman oleh penjabat Menteri Pertahanan Amerika Serikat Patrick Shanahan sehari sebelumnya.

Shanahan mengatakan Washington berencana mengirim lagi sekitar 1.000 personel militer ke Timur Tengah untuk maksud-maksud defensif.


Presiden Hassan Rouhani mengatakan Iran tak akan berperang melawan negara mana pun. Sementara Kremlin, kantor kepresidenan Rusia, menyerukan semua pihak menahan diri.

Ryabkov mengatakan kepada para wartawan bahwa Moskow telah berulang-ulang memperingatkan Washington dan para sekutunya di kawasan mengenai apa yang disebutnya "tindakan sembrono dan tanpa dipikirkan, yang dapat memompa ketegangan di sebuah kawasan yang mudah meledak".


"Sekarang apa yang kita lihat ialah usaha-usaha yang tiada henti dilakukan AS untuk melakukan tekanan politik, psikologi, ekonomi dan, ya, tekanan militer terhadap Iran dengan cara yang provokatif. (Tindakan-tindakan ini) tidak dapat dinilai sebagai apa pun kecuali upaya yang disadari untuk memprovokasi perang," kata Ryabkov seperti dikutip Reuters.

Dia menyatakan jika Washington tidak menginginkan perang, maka tindakan itu tak perlu dilakukan.

AS sebelumnya memastikan akan mengirimkan 1.000 tentara tambahan ke Timur Tengah di tengah peningkatan ketegangan dengan Iran.

Shanahan mengatakan personel tambahan ini dikerahkan "untuk tujuan pertahanan dari ancaman di udara, laut, dan darat di Timur Tengah."

"Serangan Iran belakangan ini menghasilkan intelijen kredibel yang kami terima terkait sikap pasukan Iran dan kelompok proksi mereka yang mengancam personel dan kepentingan AS di kawasan," ujar Shanahan seperti dilansir AFP.

(Reuters/pmg)