Kisruh Bom Sri Lanka, Kepala Polisi dan Eks Menhan Ditangkap

CNN Indonesia | Rabu, 03/07/2019 08:44 WIB
Kisruh Bom Sri Lanka, Kepala Polisi dan Eks Menhan Ditangkap Kepala Kepolisian non-aktif Sri Lanka, Irjen Pujith Jayasundara. (AFP Photo/Ishara S. Kodikara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Kepolisian non-aktif Sri Lanka, Irjen Pujith Jayasundara, dan mantan Menteri Pertahanan, Hemasiri Fernando, ditangkap pada Selasa (2/7). Keduanya menjadi tersangka karena diduga lalai dalam mencegah aksi teror bom pada 21 April lalu yang merenggut nyawa 258 orang.

Seperti dilansir AFP, Rabu (3/7), kabar itu disampaikan oleh juru bicara kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekaran. Keputusan itu diambil tidak lama setelah Jaksa Negara, Dappula de Livera, menyatakan bakal memperkarakan Jayasundara dan Fernando.

Menurut de Livera, Fernando dan Jayasundara dianggap melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan layak dijerat sangkaan pembunuhan tidak langsung.


Fernando dan Jayasundara ditangkap saat sedang berobat di dua rumah sakit berbeda. Mereka didatangi aparat kepolisian tak berseragam.
Keduanya dilaporkan tetap dibiarkan berada di rumah sakit. Namun, aparat yang ditugaskan menangkap keduanya melaporkan hal itu kepada atasan mereka untuk menentukan tindakan selanjutnya, apakah keduanya dibantarkan atau harus dibawa ke sel tahanan.

Jayasundara menjadi perwira polisi senior yang ditangkap selama 152 tahun lembaga itu berdiri. Cikal bakal Kepolisian Sri Lanka dibentuk pada 1867 saat wilayah itu masih menjadi jajahan Inggris.

Menurut de Livera, dia mempunyai cukup bukti untuk memperkarakan Jayasundara dan Fernando. Menurut dia, kedua orang itu bisa dijerat dengan dakwaan mengabaikan laporan intelijen hingga menyebabkan kerusakan properti, dengan ancaman hukuman maksimal 52 tahun penjara.

"Kedua pejabat itu harus diadili atas tindakan mereka yang mengabaikan laporan untuk mencegah serangan pada 21 April," tulis de Livera dalam surat yang ditujukan kepada pelaksana tugas kepala kepolisian Sri Lanka, Chandana Wickramaratne.
Fernando memutuskan mundur dari jabatannya tidak lama setelah kejadian. Dia berada di bawah kepemimpinan langsung Presiden Maithripala Sirisena.

Sedangkan Jayasundara dipaksa non-aktif oleh Sirisena, setelah sempat menolak diminta bertanggung jawab karena gagal mencegah serangan keji itu. Jaksa de Livera juga menyatakan akan menyeret sembilan pejabat tinggi kepolisian lainnya yang dianggap bertanggung jawab mencegah aksi teror.

Jayasundara dan Fernando sudah bersaksi di hadapan sidang dengar pendapat dengan panitia khusus yang dibentuk parlemen Sri Lanka, untuk menyelidiki kejadian itu. Keduanya menuduh justru Sirisena yang tidak mematuhi aturan dan mengabaikan informasi yang sudah diberikan terkait potensi serangan teror.

Jayasundara juga menolak keputusan Sirisena yang memaksanya non-aktif, dan menggugat ke Mahkamah Agung. Sampai saat ini dia juga masih tinggal di rumah dinas.

[Gambas:Video CNN]

Serangan teror diduga dilakukan oleh kelompok Jemaah Tauhid Nasional (NTJ) pada 21 April itu merenggut nyawa 258 orang dan melukai sekitar 500 orang. Korban terdiri dari 45 negara berbeda. (ayp/ayp)